Kamis, 27 Mei 2010

Light On Otomatis Digelar di Aceh Tengah

Catatan FKPMNe
Program Light On terus bergulir. Kali ini giliran Polres Aceh Tengah yang menerapkannya. Berikut beritanya dari SerambiNews:

TAKENGON - Satuan Polisi Lalu Lintas Polres Aceh Tengah, Selasa (25/5) menggelar program light on (menghidupkan lampu) sepeda motor secara otomatis, di mana saat sepmor dihidupkan lampu utamanya langsung menyala. Program yang dilaksanakan di depan Mapolres Aceh Tengah atas kerja sama dengan sejumlah dealer sepeda motor di Kota Takengon ini diikuti ratusan sepmor. Sementara untuk pemasangan lampu otomatis dihadirkan sejumah mekanik.

Kapolres Aceh Tengah, AKBP Edwin Rachmat Adikusumo melalui Kasat Lantas Iptu Agung Tri Adiyanto, mengatakan, program light on otomatis ini berkaitan dengan penerapan Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 yang mengharuskan setiap kendaraan roda dua wajib menyalakan lampu di siang hari. “Light on otomatis ini dimaksudkan agar setiap sepeda motor ketika dihidupkan, secara otomatis lampunya telah menyala,” kata Iptu Agung Tri Adiyanto.

Disebutkan Satlantas Polres Aceh Tengah, bekerjasama dengan sejumlah dealer sepeda motor di Kota Takengon, merubah sepeda motor milik warga dengan cara menyalakan lampu secara otomatis. Kegiatan itu, kata Iptu Agung, tidak dipungut biaya sehingga diharapkan para pengguna sepeda motor di Aceh Tengah, bisa menyalakan lampu sepeda motor mereka di siang hari. “Di samping ada sanksinya bagi pengendara sepeda motor yang tidak menyalakan lampu di siang hari, juga bertujuan untuk menekan angka kecelakaan lalu lintas,” ujarnya.

Dikatakannya, pengendara sepeda motor yang tidak menyalakan lampu di siang hari akan didenda Rp 100 ribu, seperti yang telah diatur Pasal 293 ayat 2 jo Pasal 107 ayat 2 UU Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalulintas dan Angkutan Jalan. “Kami hanya menerapkan aturan yang ada dan bukan inisiatif dari pihak Polres Aceh Tengah. Dan program light on otomatis ini, baru pertama kali digelar di daerah ini,” sebut Iptu Agung Tri Adiyanto.

Sementara itu, Kepala Cabang Dealer Honda, Aceh Tengah, Herry Yento menambahkan, kerja sama yang dilakukan pihaknya dengan Satlantas Polres Aceh Tengah, merupakan salah satu bentuk kepedulian terhadap keselamatan pengemudi kendaraan roda dua. “Kami bukan hanya menjual sepeda motor kepada para konsumen tetapi ikut serta dalam sosialisasi keselamatan bagi pengendara sepeda motor melalui kegiatan-kegiatan seperti ini,” kata Herry Yanto.(c35)

Sumber: SerambiNews

Sabtu, 15 Mei 2010

Artikel Ilmiah tentang mangrove

Menyaring Limbah Dengan Menggunakan Pohon Bakau



Setiap sebulan sekali Iwan Hamzah kedatangan tamu dari Jepang. Mereka meninjau tambak Iwan yang terletak di Dusun Kepetingan, Desa Sawahan, Kecamatan Buduran, Sidoarjo. Sambil mengambil foto dan gambar, tamu dari Negeri Matahari Terbit tersebut mengelilingi tambak seluas 18 hektare itu.

Setiap kali datang, tamu yang selalu berganti-ganti itu bertanya tentang dua hal. Pertama, apakah tambak ini merusak lingkungan atau tidak. "Kedua, apakah memiliki mangrove atau tidak," kata Iwan, Senin pekan lalu. Jika dua syarat tersebut terpenuhi, mereka akan membeli udang dan bandeng dari tambak milik Iwan.

Bukan cuma Iwan, importir asal Jepang ini juga mendatangi tambak lain di Buduran. Pertanyaan mereka tetap sama, apakah warga mengelola tambak dengan prinsip ramah lingkungan, khususnya menanam mangrove atau bakau. Tanaman ini memang jadi dewa penolong bagi warga Buduran. Bakau mengelilingi tambak warga, area kanan-kiri sungai, serta lahan di sepanjang pantai.

Setiap kali panen, Iwan mendapatkan 90 kilogram udang untuk 1 hektare tambak. Padahal lima tahun lalu dia cuma dapat 15 kilogram udang. Hal ini terjadi karena tingginya kadar pencemaran di pesisir Sidoarjo. Limbah industri, pertanian, dan rumah tangga masuk ke Kali Karanggayam yang banyak dipakai petambak Sidoarjo untuk mengairi tambak. "Tambak saya sebelum 2000-an selalu kena penyakit," ujar Ketua Unit Pelayanan Pengembangan Budidaya Ikan dan Udang Delta Makmur Sidoarjo.

Pencemaran di wilayah pesisir memang mencemaskan. Di Pantai Kenjeran menumpuk kandungan logam berat, seperti kuprum, merkuri, tembaga, timbal, dan cadmium pada kerang serta berbagai jenis ikan. Hal itu terungkap dalam Jurnal Hakiki edisi Februari 2000, yang memuat penelitian Balai Teknik Kesejahteraan Lingkungan dan BPD Jawa Timur. Rata-rata kadar merkuri 11,35 ppb, kuprum 1.276,16 ppb, dan timbal 913.369.

Sisi lain hutan mangrove makin menciut di sepanjang Pantai Sidoarjo. Menurut Kepala Dinas Lingkungan Hidup, Pertambangan, dan Energi Pemerintah Kabupaten Sidoarjo Hasan Basri, dari 26.495 hektare hutan bakau, sekitar 12 ribu hektare rusak. Bahkan lebih dari 9.000 hektare hutan bakau rusak berat. Kerusakan hutan bakau paling parah berada di tiga kecamatan, yaitu Buduran, Sedati, dan Waru. Warga yang tidak mengetahui manfaat mangrove menebangnya untuk membangun tambak baru. Selain itu, sejumlah pengusaha membabat pohon ini karena papan mangrove cocok untuk dijadikan bahan membuat kemasan.

Untuk mencegah kerusakan lingkungan, mulai 2007 warga Buduran menanam mangrove di sekitar tambak. Ada 240 ribu batang mangrove yang ditanam, antara lain jenis Rhizophora (tanjang) sebanyak 130 ribu batang dan Avicena (api-api) sebanyak 110 ribu batang. Setelah tanaman bakau tumbuh, akhir tahun lalu Departemen Kelautan dan Perikanan merevitalisasi tambak di Buduran dengan pola treatment biofilter. Tujuan lain dari program uji coba tingkat nasional ini adalah mengantisipasi limbah dari lumpur panas Lapindo.

Tambak milik Iwan ikut dalam uji coba tersebut. Satu hektare tambaknya digunakan sebagai filter. Dia menebar udang dan bandeng serta menanam bakau dan memberi batu apung. Pohon bakau untuk menyerap polutan di air, sedangkan batu apung untuk menjernihkan air tambak. "Sehingga udang jadi sehat dan bisa terhindar dari penyakit," kata Subandono Diposaptono, Direktur Pesisir dan Lautan Departemen Kelautan dan Perikanan.

Tiga bulan kemudian Iwan memanen udang windu dengan hasil 90 kilogram. Selain itu, penyakit tak lagi bermukim di tambaknya. Sejumlah ahli, seperti Banus (1977), mengungkapkan bahwa hipokotil pohon bakau dapat mengakumulasi tembaga, besi, dan seng. Hutan mangrove yang tumbuh di muara sungai merupakan tempat penampungan terakhir limbah yang terbawa aliran sungai, terutama jika jumlah limbah yang masuk ke lingkungan estuari melebihi kemampuan pemurnian alami oleh badan air. Tumbuhan memiliki kemampuan menyerap ion-ion dari lingkungannya ke dalam tubuh melalui membran sel.

Penelitian di Cilacap menunjukkan bahwa pohon bakau (Rhizophora mucronata) dapat mengakumulasi tembaga, mangan, dan seng. Lembaga Kajian Ekologi dan Konservasi Lahan Basah (Ecoton) pernah meneliti kandungan kadmium dan tembaga pada jenis api-api di muara Kali Wonokromo. Hasilnya, pohon api-api mengandung tembaga paling tinggi pada bagian akar, yaitu 11,5319 mg/gram. Diikuti pada batang sebesar 3,7552 mg/gram dan daun sebesar 2,1142 mg/gram.

Sedangkan kandungan kadmium pada bagian akar sebesar 8,6387 mg/gram, di bagian batang sebesar 2,6825 mg/gram, dan bagian daun sebesar 1,2138 mg/gram. Padahal rata-rata jumlah kandungan tembaga dalam sedimen di muara Kali Wonokromo adalah 13,7513 mg/gram dan logam kadmium mencapai 11,7495 mg/gram. Rata-rata jumlah kandungan tembaga di muara Kali Wonorejo adalah 12,7277 mg/gram dan kadmium mencapai 7,7468 mg/gram.

Penelitian lain dilakukan oleh Pusat Pelestarian Sumber Daya Alam Nasional Futian, Hong Kong. Mangrove yang ditanam di rawa ternyata dapat mengolah limbah dengan biaya rendah. Mekanisme pengendalian pencemaran terjadi melalui proses-proses absorbsi, filtrasi, biodegradasi, presipitasi, sedimentasi, penyerapan oleh tanaman, dan evaporasi atau penguapan. "Hasil penelitian di Futian ini menjadi salah satu dari 12 kiat melindungi lingkungan," kata Subandono.

Jambore Mangrove

Ternyata sekitar 3 persen hasil tangkapan laut Indonesia berasal dari jenis spesies yang bergantung pada ekosistem mangrove, antara lain kepiting, Penaeus monodon, Penaeus mergueiensis, Metapenaeus sp., dan Scylla sersata. Di sisi lain, luas lahan bakau di Indonesia makin berkurang. Pada 1980, luas lahan bakau mencapai 5,5 juta hektare, tapi kini merosot menjadi 2,5 juta hektare.

"Hilangnya hutan mangrove menyebabkan rusaknya fungsi ekologis," kata Subandono Diposaptono, Direktur Pesisir dan Lautan Departemen Kelautan dan Perikanan. Karena itu, sejak lima tahun lalu Subandono menggandeng pemerintah daerah dalam menanam mangrove. Warga dan lembaga swadaya masyarakat juga dilibatkan dalam program yang diberi nama Ayo Tanam Mangrove.

Melalui gerakan itu, mereka menanam bakau pada lahan seluas 500 ribu hektare di pesisir sepanjang 2009. Januari tahun depan, gerakan ini berlangsung di Pekalongan, Jawa Tengah. Utusan nelayan dan komunitas perikanan seluruh Indonesia bakal menanam bakau di kolam tambak. Hal ini dikaitkan dengan program Wanamina.

Tak hanya itu, Subandono juga mendorong generasi muda mencintai pohon ini melalui kegiatan Jambore Mangrove. Pada bulan lalu berlangsung Jambore Mangrove di Kabupaten Pamekasan, Jawa Timur. Sekitar 500 anggota Pramuka dan pelajar berkemah di pantai. Mereka mendapatkan pengetahuan serta cara memelihara bakau, termasuk informasi manfaat bakau untuk bahan makanan dan minuman. Selain itu, ada lomba cerdas cermat dan keterampilan yang berkaitan dengan tanaman ini.

Dari Karbon sampai Sirop

Intergovernment Panel for Climate Change, dalam laporannya, menyebutkan terjadinya peningkatan gas karbon dioksida (CO2) di atmosfer. Bersama gas-gas rumah kaca lainnya, CO2 menjadi biang keladi perubahan iklim. Hutan mangrove ternyata mempunyai kemampuan menyerap gas tersebut.

Hal ini ditunjukkan oleh Nyoto Santoso dalam risetnya di Batu Ampar, Kalimantan Barat, pada 2007. Nyoto mencatat bahwa bakau dengan kondisi baik mampu menyerap karbon sebesar 10,68 ton/hektare/tahun. Penelitian lain dilakukan oleh Ball--seperti dikutip oleh Sukardjo (1996)--yang menunjukkan bahwa fotosintesis mangrove secara khas terpenuhi mencapai ½-2/3 dari seluruh radiasi sinar matahari. Lalu mempunyai suhu optimum di bawah 35 derajat Celsius dan memiliki titik kompensasi CO2 yang mudah ditera. Pada kondisi normal, keseimbangan CO2 secara linier berhubungan dengan daya hantar listrik daun.

Menurut Ball, kecepatan asimilasi banyak berkurang pada suhu daun yang tinggi. Pada beberapa jenis mangrove, kecepatan asimilasi relatif tidak terpengaruh oleh suhu dengan kisaran 17-30 derajat Celsius, melainkan menurun secara tajam pada suhu di atas 30 derajat Celsius dan mendekati nol pada suhu 40 derajat Celsius.

Selain peredam CO2, mangrove memiliki fungsi lain. Davis, Claridge, dan Natarina mencatat sejumlah manfaat itu. Pertama, menjadi habitat satwa langka, seperti 100 jenis burung, termasuk burung langka Blekok Asia. Kedua, melindungi bangunan, tanaman pertanian, atau vegetasi alami dari kerusakan akibat badai atau angin yang bermuatan garam melalui proses penyaringan.

Ketiga, pengendapan lumpur, sehingga kualitas air laut terjaga dari endapan lumpur erosi. Keempat, penambah unsur hara. Kelima, penambat racun. Keenam, sumber alam dalam kawasan (In-Situ) dan luar kawasan (Ex-Situ). Ketujuh, transportasi. Kedelapan, sumber plasma nutfah. Kesembilan, tempat rekreasi dan pariwisata. Kesepuluh, sarana pendidikan dan penelitian. Ke-11, memelihara proses-proses dan sistem alami. Ke-12, penyerapan karbon. Ke-13, memelihara iklim mikro. Terakhir, mencegah berkembangnya tanah sulfat masam.

Tidak hanya itu, buah dan daun mangrove dapat diolah menjadi bahan baku beragam makanan kecil, sirop, dan urap. Berdasarkan penelitian Departemen Kelautan dan Perikanan, buah mangrove mengandung gizi seperti karbohidrat, energi, lemak, protein, dan air. Karbohidrat yang terkandung di dalamnya mencapai sekitar 76,56 gram per 100 gram. Buahnya mengandung senyawa yang bermanfaat bagi tubuh manusia, seperti monosakarida, terutama glukosa, galaktosa, dan fruktosa.

Sumber : korantempo.com via blog ariefcrb


Jumat, 14 Mei 2010

Dokumentasi Antara tentang mangrove Wonorejo

mangrove Wonorejo On Camera




foto hari bumi 2010

SURABAYA, 21/4 - HARI BUMI 2010. Seorang petani mangrove, menanam bibit mangrove di bekas hutan mangrove yang terabrasi oleh gelombang laut, di pesisir pantai Wonorejo Surabaya, Rabu (21/4). Hari Bumi Sedunia diperingati pada 22 April 2010. FOTO ANTARA/Bhakti Pundhowo/ed/ama/10

21/4/2010 18:30



foto konservasi mangrove

SURABAYA, 13/4 - KONSERVASI MANGROVE. Seorang petani tambak menunjukkan bibit mangrove di kawasan konservasi alam hutan mangrove Wonorejo Rungkut Surabaya, Selasa (13/4). Kawasan hutan mangrove Wonorejo yang terletak di Surabaya Timur tersebut, oleh Pemkot Surabaya dijadikan kawasan konservasi alam dan wisata ekosistem. FOTO ANTARA/Eric Ireng/nz/10

13/4/2010 20:30


foto ternak penggemukan kepiting

SURABAYA, 30/3 - TERNAK PENGGEMUKAN KEPITING. Seorang peternak, mengambil seekor kepiting yang siap dipanen, di pusat budidaya penggemukan kepiting, Wonorejo Surabaya, Selasa (30/3). Budidaya ini merupakan usaha bersama petani magrove Wonorejo, yang mengambil bibit kepiting yang hidup diakar-akar mangrove. Ditempatkan di beberapa kolam buatan, kepiting yang diberi makan daging ikan mujair itu siap dipanen setiap dua minggu sekali, dengan berat rata-rata tiap kepiting mencapai 0,5 kg. FOTO ANTARA/Bhakti Pundhowo/nz/10

30/3/2010 16:15


foto mata pencarian alternatif

SURABAYA, 23/3 - MATA PENCARIAN ALTERNATIF. Dua nelayan mengambili ikan di jala, usai mencari ikan di waduk penampungan limpahan air hujan (Busem) Wonorejo, dikawasan pesisir pantai Wonorejo Surabaya, Selasa (23/3). Cuaca yang masih buruk diperairan laut Surabaya serta Madura, membuat para nelayan di pesisir disana enggan melaut dan berpindah sementara untuk mencari ikan di busem tersebut sebagai alternatif mata pencarian. FOTO ANTARA/Bhakti Pundhowo/hp/10

23/3/2010 10:40

foto tanam magrove metode bumbung

SURABAYA, 22/3 - TANAM MAGROVE. Seorang petani magrove, mengambil bibit mangrove dari atas perahu untuk ditanam dengan metode bumbung di kawasan garis pantai hutan magrove Wonorejo Surabaya, Senin (22/3). Metode bumbung adalah cara penanaman mangrove untuk garis pantai yang airnya selalu pasang. Bibit magrove diletakan dalam batang bambu (bumbung) yang telah diisi lumpur, dan bambu selanjutnya ditanam didasar lumpur pantai. Dengan metode ini, bibit mangrove terlindung dari gelombang pantai dan tidak hanyut oleh arus air pantai.

FOTO ANTARA/Bhakti Pundhowo/mes/10

22/3/2010 13:45


foto tanam magrove metode bumbung
SURABAYA, 22/3 - TANAM MAGROVE. Seorang petani magrove, memasukan bibit mangrove ke dalam batang bambu, untuk ditanam dengan metode bumbung di kawasan garis pantai hutan magrove Wonorejo Surabaya, Senin (22/3). Metode bumbung adalah cara penanaman mangrove untuk garis pantai yang airnya selalu pasang. Bibit magrove diletakan dalam batang bambu (bumbung) yang telah diisi lumpur, dan bambu selanjutnya ditanam didasar lumpur pantai. Dengan metode ini, bibit mangrove terlindung dari gelombang pantai dan tidak hanyut oleh arus air pantai. FOTOANTARA/Bhakti Pundhowo/mes/10.
22/3/2010 13:45


foto ukm sirup mangrove

SURABAYA, 20/3 - UKM SIRUP MANGROVE. Sony, seorang petani mangrove, menempelkan kertas kemasan di botol yang telah diisi sirup mangrove, di rumah industri pembuatan sirup mangrove, Wonorejo Surabaya, Sabtu (20/3). Sirup mangrove ini merupakan Usaha Kecil Menengah (UKM) para petani mangrove di kawasan tersebut. FOTO ANTARA/Bhakti Pundhowo/ss/ama/10

20/3/2010 16:45


Galeri Foto Pamurbaya

Photo Collection From Eastjava.com






This eco-tourism in Surabaya is well-known as Pamurbaya, Pantai Timur Surabaya referred to Surabaya Eastern Beach, this object is quite new but having a rich beauty like any other objects in East Java. This object is located in Gunung Anyar, the way to UPN university and reachable by any vehicles.

The tourists that visit to this object can rent the boat to down the river that full of mangroves plantation, there is also fauna that live within the forest like monkey, type of Macaca fascicularis and water bird along the river to the mangrove station.

The journey from Gunung Anyar to Wonorejo mangrove station is about 4 km by boat. The checkpoint in this object is made of unique bamboo, stylish with the woven palm leaves. Very fit and steady in the middle of the sea. The cost for renting the boat is only Rp. 7000/ person

www.eastjava.com

Rabu, 12 Mei 2010

Tulisan Ilmiah tentang Penataan Ekowisata Wonorejo

Tema: Penataan Ruang dan Pertanahan
Perlindungan dan Pengelolaan Ekowisata Mangrove Wonorejo
Oleh : Ninuk Dyah Ekowati (Guru SMAK ST Hendrikus Surabaya)
Tanggal : Rabu, 12 Mei 2010

SURABAYA terletak di 7 derajad LS � 7 derajad 30' LS dan 112 derajad 30' BT � 113 derajad BT. Di bagian utara dibatasi oleh selat Madura. Oleh karena itu, Surabaya merupakan wilayah yang strategis yang memungkinkan untuk didirikan pelabuhan Tanjung Perak. Pendirian pelabuhan memberikan kemungkinan dalam pengembangan wilayah Surabaya sehingga berpengaruh juga sebagai factor pendorong untuk didirikankan bandara Juanda. Dengan kedua sarana transportasi tersebut memperlancar perdagangan dan interaksi antarkota. Tingkat interaksi antar kota yang tinggi dan perdagangan yang lancar selanjutnya memberikan pengaruh perubahan perekonomian Surabaya mengacu pada industrialisasi.

Sementara itu, Surabaya merupakan wilayah yang subur karena Surabaya merupakan wilayah endapan delta. Delta tersebut berasal dari endapan yang dibawa oleh sungai Bengawan Solo dan Sungai Brantas. Keadaan ini sebenarnya memberikan kemungkinan bagi pertanian karena Surabaya merupakan wilayah yang subur.

Dalam sejarahnya Surabaya juga berpotensi dalam pertambangan yaitu minyak bumi. Namun dalam perkembangannya ternyata cebakan minyak bumi di Surabaya tidak mendukung dalam eksploitasi guna pemenuhan kebutuhan hidup.

Posisi Surabaya juga mempunyai potensi dalam matapencaharian nelayan dan pariwisata karena Surabaya membujur pantai utara selat Madura.

Berdasarkan uraian potensi Surabaya tersebut memberikan peluang terjadinya interaksi antara wilayah Surabaya dengan wilayah yang lain. Salah satu dampak interaksi dari interaksi tersebut adalah dinamika perkembangan dan pertumbuhan perekonomian yang pada akhirnya menuju pada industrialisasi yang terjadi di Surabaya. Dampak yang lain adalah adanya migrasi penduduk yang besar-besaran menuju kota Surabaya.

Migrasi penduduk menuju Surabaya merupakan sebuah gejala terjadinya keseimbangan antara jumlah manusia dan kapasitas potensi lingkungan alam. Kondisi lingkungan Surabaya yang tereksploitasi dari tahun-ke tahun memberikan pengaruh terhadap kapasitas alam yang semakin minim. Sementara laju migrasi penduduk tidak dapat ditahan. Kedua kondisi inilah yang menyebabkan ketidakseimbangan alam yang pada akhirnya menimbulkan masalah lingkungan.

Masalah lingkungan dari waktu ke waktu semakin mempengaruhi kualitas lingkungan hidup. Kualitas lingkungan hidup yang merosot dapat dibuktikan dengan adanya berbagai polusi; polusi air, polusi tanah, dan polusi udara. Berbagai polusi tersebut memberikan pengaruh lanjutan yaitu global warming dan berkurangnya habitat di permukaan bumi.

Pengaruh-pengaruh tersebut akan terus menggerogoti kapasitas lingkungan alam. Salah satu kapasitas alam yang semakin merosot adalah keberadaan hutan bakau. Banyaknya perumahan yang tumbuh di daerah pesisir pantai membawa dampak yang sangat besar terhadap kondisi lingkungan hutan bakau. Pesatnya perkembangan pemukiman dan kota telah meningkatkan jumlah sampah baik padat maupun cair yang merupakan sumber pencemaran pesisir dan laut yang sulit dikontrol.

Demikian juga yang terjadi di hutan bakau Wonorejo. Penumpukan sampah terjadi di daerah muara sungai yang dibawa oleh Kali Jagir Surabaya sebagai aliran sungai dari Sungai Brantas. Pada dasarnya tumpukan sampah disebabkan oleh perumahan disekitar bantaran Kali Jagir. Perumahan yang padat dan kumuh serta tidak dilengkapi pembuangan sampah sehingga sampah dibuang langsung ke Kali Jagir. Ternyata kondisi ini diperparah dengan adanya sampah akibat kiriman dari berbagai wilayah yang dilalui oleh Sungai Bengawan Solo dan Sungai Brantas. Jadi walaupun kita berada jauh dari wilayah sungai maka setiap sikap dan perilaku kita terhadap lingkungan contohnya dalam pembuangan sampah yang kurang benar dapat memberikan pengaruh dampak buruk terhadap kondisi di wilayah di Wonorejo.

Surabaya sebagai kota industrialisasi tentu menghasilkan limbah kimia (berupa sianida, timah, nikel, khrom, dan Iain-lain) yang dibuang dalam jumlah besar ke aliran sungai sangat potensial mencemari perairan pesisir dan laut, terlebih bahan sianida yang terkenal dengan racun yang sangat berbahaya.

Baik polusi padat maupun cair dapat mempengaruhi kerusakan lingkungan hidup. Kerusakan lingkungan hidup ini ditunjukkan dengan berkurangn populasi hutan bakau. Bibit hutan bakau tidak mempunyai kesempatan untuk tumbuh dengan baik karena terkena sampah padat maupun cair. Sementara, kebutuhan manusia akan kayu juga mengancam keberadaan hutan bakau di wilayah Wonorejo. Hal ini terbukti dengan berkurang populasi hutan bakau seluas 2.5 ha. Berdasar kondisi ini tentu sangat mempengaruhi habitat sungai yang terdapat di Wonorejo. Secara tidak langsung kondisi ini akan mengurangi penghasilan para nelayan karena semakin berkurangnya populasi ikan di daerah Wonorejo.

Jika kondisi ini berlanjut maka menurut Bengen, 2001 menyatakan bahwa hutan mangrove mempunyai fungsi sebagai berikut:

  1. Sebagai penahan dari gelombang laut sehingga mencegah penyempitan daratan
  2. Sebagai penahan dari angin badai karena dengan adanya hutan mangrove tidak terjadi perbedaan yang mencolok antara suhu di daratan dan lautan sehingga menyebabkan perbedaan tekanan udara yang mencolok yang pada akhirnya memunculkan badai
  3. Pelindung pantai dari pengaruh abrasi yang berfungsi untuk menahan seluruh endapan yang dikembalikan oleh gelombang laut
  4. Pelindung bagi habitat udang, kepiting yang secara umum melindungi biota laut.
Selain fungsi yang disebutkan diatas ada hal terpenting lagi bahwa hutan bakau berfungsi untuk menahan intrusi air laut yaitu masuknya air laut, meresap kedalam daratan dan mempengaruhi air tanah dangkal maupun air tanah dalam. Pada akhirnya, intrusi air laut berakibat mempengaruhi keberadaan kualitas persediaan air kebutuhan hidup manusia menjadi asin. Jika hal ini terjadi maka seluruh kehidupan di permukaan daratan akan musnah.

Intrusi air laut juga menyebabkan korosi bagi fondasi bangunan yang terdapat di daratan. Keberadaan bangunan akan cepat runtuh karena fondasi bangunan digerogoti oleh air asin.
Kerusakan hutan bakau yang terjadi di Wonorejo perlu dihindari sebelum bencana alam terjadi di permukaan bumi khususnya di Surabaya. Langkah pengelolaan secepat mungkin harus diambil demi penyelamatan lingkungan.

Berdasarkan ketetapan Pemerintah Indonesia pada tanggal 7 Mei 1999 berupa UU No.22 tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah memberikan motivasi bagi penduduk di kelurahan Wonorejo yang peduli terhadap lingkungan untuk dapat mengelola wilayah hutan bakau dengan benar. UU no. 22 tahun 1999 merupakan pendorong dan dasar berdirinya ekowisata Mangrove Wonorejo.

Ekowisata Mangrove Wonorejo mencoba merangkak untuk melalukan pengelolaan wilayah bantaran Kali Jagir sampai wilayah Wonorejo secara terpadu. Setiap sistem dalam masyarakat dikerahkan dalam upaya penyelamatan lingkungan dan kelestarian hutan mangrove.

Dalam pengelolaan Ekowisata Mangrove Wonorejo pada mulanya mengalami kesulitan. Hal ini disebabkan pemerintah harus melakukan sosialisasi pada penduduk yang tinggal di bantaran kali Jagir sampai sepanjang wilayah Wonorejo untuk pindah dari pemukiman di sepanjang bantaran tersebut. Tentu saja hal ini mengalami hambatan yang cukup berat. Namun, langkah pemindahan pemukiman liar di wilayah tersebut harus dilakukan dengan pertimbangan kesinambungan Surabaya untuk waktu yang akan datang. Para penduduk yang dapat menunjukkan sebagai penduduk asli Surabaya maka diberikan jalan keluar dengan menyediakan rumah susun yang letaknya di wilayah Wonorejo. Sementara itu, mereka yang menjadi migran diminta untuk kembali ke daerah masing-masing atau menyewa rusun di daerah Wonorejo.

Proses ini tentu membutuhkan waktu yang sangat panjang, melalui tahap sosialisasi dan penyadaran. Pada akhirnya sampai ditempuh langkah dengan cara memaksa penduduk secara paksa untuk pindah dari pemukiman. Nampaknya hal ini kurang manusiawi, namun langkah ini harus ditempuh sebelum secara keseluruhan potensi alam dan keadaan lingkungan Surabaya mengalami proses ketidakmampuan dalam mendukung kehidupan seluruh penduduk di Surabaya.

Setelah melalui proses yang sangat berat dengan pembersihan pemukiman di sekitar bantaran Kali Jagir sampai wilayah Wonorejo maka mulailah disusun inventarisasi masalah sesuai dengan fakta yang terdapat diwilayah tersebut, kendala yang terjadi, langkah strategis dalam pengelolaan wilayah tersebut. Langkah tersebut nampaknya belum cukup jika tidak diikuti dengan kontrol dan evaluasi.
Permasalahan yang terjadi di wilayah ini adalah:
  1. Sampah yang mengalir disepanjang Kali Jagir
  2. Hutan bakau yang jumlahnya semakin menipis. Sepanjang sejarah lima tahun terakhir, ternyata telah terjadi pengurangan luas hutan bakau karena pembalakan sebesar 2.5 ha.
  3. Pembalakan liar hutan bakau, karena kayu bakau merupakan kayu bakar yang kualitasnya baik .
  4. Kesadaran para nelayan untuk melakukan perubahan terhadap langkah kelestarian lingkungan.
  5. Keikutsertaan masyarakat Surabaya dalam upaya pertanggungjawaban kelestarian Surabaya. Keikutsetaan masyarakat Surabaya dalam upaya pertanggungjawaban kelestarian lingkungan masih sekitar 25%, bahwa dari sekitar 2500 Rukun Warga hanya berkisar 300 Rukun Warga yang peduli terhadap tindakan kelestarian lingkungan.
  6. Habitat Bio laut yang junlahnya mengalami penurunan.
Sementara itu kendala yang terdapat di bantaran Kali Jagir sampai wilayah Wonorejo adalah sebagai berikut:
  1. Kesadaran masyarakat secara umum khususnya masyarakat yang tinggal di sepanjang Sungai Brantas dan Sungai Bengawan Solo dalam upaya kedisplinan pembuangan sampah dan pelestarian lingkungan.
  2. Kesadaran masyarakat nelayan untuk bertanggungjawab terhadap lingkungan sekitar.
  3. Adanya sekelompok masyarakat yang sering kali menggunakan wilayah ini untuk hal-hal yang kurang baik; contohnya mencoba membangun pemukiman di sekitar bantaran Kali Jagir sampai wilayah Wonorejo, membuka caf� untuk tujuan yang kurang benar yang pada akhirnya jika dibiarkan berkembang menjadi tempat prostitusi.
  4. Sumber daya manusia yang ditugaskan secara khusus untuk menangani konservasi hutan mangrove.
  5. Sarana dan biaya dalam pengelolaan wilayah Wonorejo.
Berdasarkan permasalahan dan kendala yang ada maka para relawan yang peduli terhadap pelestarian lingkungan hidup terutama hutan mangrove di Wonorejo melakukan upaya dengan membuat langkah-langkah strategis yang dituangkan dalam Ekowisata Mongrove Wonorejo sebagai berikut:
1.Langkah preservasi yaitu langkah pengembangan biota laut yang menjadi endemic wilayah tersebut. Langkah ini telah diambil oleh EMW (Ekowisata Mangrove Wonorejo) dengan mengikutsertakan lembaga pendidikan untuk berperan serta dalam peningkatan kesadaran anak didik dalam pelestarian lingkungan dengan melakukan penanaman hutan mangrove di wilayah tersebut. Langkah ini dinilai efektif karena penerus bumi ini adalah generasi muda, dengan mengajak para anak didik melihat fakta yang terjadi, memprediksikan akibat yang terjadi jika tidak terdapat tindakan penyelamatan terhadap lingkungan alam, melakukan penanaman hutan mangrove, maka anak didik akan lebih peka, peduli dan bertanggungjawab terhadap kondisi di sekitar.

2.Langkah konservasi yaitu langkah yang menunjuk bahwa wilayah Wonorejo diperuntukan bagi kegiatan pembangunan. Kegiatan pembangunan ini dimaksudkan untuk mengembangkan kawasan hutan mangrove dan habitat monyet untuk kegiatan wisata alam. Langkah konsevasi di Wonorejo dilakukan dengan melakukan penanaman hutan bakau di wilayah pasang-surut sebagai pengganti dari hutan bakau yang telah musnah. Pengembangan penanaman hutan bakau dengan menggunakan bambu yang didalamnya telah dimasuki bibit bakau selanjutnya ditancapkan atau ditanam di daerah pasang-surut. Dalam langkah ini pihak EMW telah menjalin kerjasama dengan pemerintah setempat dan PT. GIA dalam mengembangkan hutan mangrove dan populasi monyet.

3.Tingkatan pemanfaatan yaitu langkah pembangunan yang dapat memberikan manfaat bagi masyarakat sekitarnya. Kegiatan pembangunan ini juga dikembangkan sebagai wilayah pertambakan dan industry pariwisata pemancingan dan jet ski. Namun kegiatan tersebut masih membutuhkan pengelolaan lebih lanjut karena kondisi sekarang ini masih dalam taraf menuju pada langkah konservasi. Dibutuhkan uluran tangan bagi yang peduli dalam pelestarian lingkungan baik biaya, waktu dan tenaga. Usaha yang sedang dikembangkan adalah wisata naik perahu menyusur Kali Jagir sampai muara sungai.

Berdasarkan penjelasan tersebut maka EMW telah berusaha mewujudkan pembangunan yang menjangkau bidang social, ekonomi dan ekologis. Dalam bidang social EMW telah mengajak segenap system dalam masyarakat untuk mewujudkan penataan wilayah Wonorejo. EMW telah mengajak pemerintah, lembaga pendidikan dan terlebih masyarakat sekitar yang terdiri dari para nelayan untuk memelihara hutan bakau untuk mempertahankan biota laut.

Secara ekonomi; EMW telah mengajak masyarakat nelayan disekitar untuk membaharui kondisi pesisir, jika kondisi pesisir pantai penuh dengan hutan bakau maka habitat laut akan berkembang dan akan meningkat perekonomian nelayan, usaha wisata yang berkembang akan memberikan pengaruh bagi kondisi perekonomian nelayan. Hal ini ditunjukkan dengan kepedulian masyarakat sekitar terhadap oknum-oknum pembalakan liar hutan bakau. Masyarakat sekitar yang terdiri dari para nelayan melakukan penangkapan terhadap pelaku pembalakan liar hutan mangrove.

Kegiatan inipun membawa dampak ekologis; membaharui hutan bakau, mengurangi abrasi, mengurangi intrusi, meningkatkan biota laut, usaha pencegahan penyempitan daratan, dan sebagainya.

Pembangunan yang berjalan di Wonorejo adalah pembangunan yang menyertakan masyarakat sekitar, merupakan pembangunan yang menitikberatkan kesejahteraan masyarakat. Pembangunan yang memberikan peluang bagi para nelayan untuk lebih berkembang dan meningkatkan kesejahteraan tidak saja pada sektor perikananan,wisata namun juga sektor konservasi. Pembangunan yang mengaspirasi masyarakat kecil dan pembangunan yang mengaspirasi lingkungan hidup.(*)

Sumber: Mediaindonedia

Senin, 10 Mei 2010

Artikel Penjarahan mangrove Sidoarjo dari TEMPO

Hutan Mangrove Sidoarjo Kritis Akibat Dijarah


TEMPO Interaktif, Sidoarjo - Kawasan hutan mangrove atau bakau di pesisir Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, kritis akibat pembabatan ilegal. Sejumlah nelayan di kawasan pesisir Sedati kerap memergoki pelaku pembalakan mangrove ilegal. Dampaknya, selain kawasan pantai terancam abrasi, jumlah ikan tangkapan nelayan merosot.

"Penjarahan tanaman mangrove terjadi hampir di sejumlah pesisir Sidoarjo," kata Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia Cabang Kabupaten Sidoarjo, Muhammad Alimin Tauba, Senin (10/5).

Pelaku menjarah secara sembunyi-sembunyi dengan membabat dan mengangkut kayu mangrove dengan truk. Rusaknya hutan mangrove menyebabkan hasil tangkapan nelayan merosot. Selama melaut enam jam, nelayan hanya memperoleh sekitar satu kilogram udang. Hasil tangkapan udang tersebut dijual seharga Rp 45 ribu per kilogram.

Hasil tangkapan nelayan Sedati berupa udang, kupang, kerang, rajungan, ikan dorang dan kakap. Menurut dia, udang diekspor ke Jepang dan Amerika sedangkan ikan dorang diekspor ke Taiwan, Malaysia, dan Singapura. Jumlah nelayan sebanyak 1.100 orang menggunakan sebanyak 500 perahu berkapasitas dibawah 5 gross ton.

Data Dinas Kelautan dan Perikanan Sidoarjo menyebutkan pelaku mengincar mangrove jenis api-api. Sebab, secara ekonomi jenis mangrove api-api memiliki harga jual tinggi. Tanaman mangrove jenis api-api diolah menjadi bahan makanan, kosmetik, dan obat-obatan. "Kayu tanaman mangrove mahal, diekspor ke Cina dan Korea," kata Kepala Bidang Kelautan Dinas Kelautan dan Perikanan Sidoarjo, Septadi Koesmantoyo.

Kerusakan hutan mangrove terparah di pesisir Jabon dibandingkan Waru, Sedati, Buduran, Sidoarjo, dan Candi. Tanaman mangrove, katanya, selain mencegah abrasi juga bermanfaat menetralisasikan air dari racun dan polutan yang mengalir melalui sungai.

Sejak 2011, pemerintah menanam bibit mangrove di hutan yang rusak akibat pembalakan ilegal. Pelaku penjarahan, mengincar tanaman berusia 10 tahun lebih berdiameter sekitar 30 sentimeter.

Pelaku penjarahan mangrove diancam dengan Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2007 tentang pengelolaan pesisir dan pulau-pulau kecil dengan ancaman hukuman penjara 2-10 tahun dan denda Rp 2 miliar-Rp 10 miliar.

Untuk mencegah pembalakan hutan mangrove, pemerintah menggandeng nelayan dan masyarakat pesisir dalam kelompok masyarakat pengawas (pokmaswas). Alasannya warga setempat yang lebih memahami wilayahnya, apalagi panjang pantai Sidoarjo mencapai 27 kilometer.

EKO WIDIANTO


Sumber: Tempointeraktif

Minggu, 09 Mei 2010

Apel Unjuk Kemampuan FKPM

MULYOREJO - Sejumlah anggota Forum Kemitraan Polisi Masyarakat (FKPM) unjuk kemampuan bela diri kemarin (8/5). Dengan borgol dan alat pemukul, mereka menunjukkan cara melawan penjahat. Aksi anggota FKPM di area parkir Galaxy Mal itu dipantau lang­sung oleh Kapolwiltabes Surabaya Kombes Ike Edwin.

Atraksi bela diri tersebut merupakan rangkaian apel FKPM se-Surabaya Timur. Sekitar 1.500 orang mengikuti acara itu. "Jumlah polisi tidak banyak. Maka itu, FKPM sangat membantu menciptakan keamanan dan ketertiban Surabaya," ucap Ike setelah pertunjukan bela diri.

Dia mengatakan, FKPM antarkecamatan harus selalu solid dan bekerja sama. Sebab, bila tercerai berai, yang rugi adalah masyarakat. Ike juga mengimbau para anggota untuk tak henti berkarya dan berlatih agar semakin tangguh.

FKPM di Surabaya Timur memang tergolong aktif menyelenggarakan kegiatan. Terutama FKPM Nirwana Eksekutif (NE). Dalam dua tahun belakangan, banyak acara bertajuk kantibmas yang diadakan. Misalnya, acara cerdas cermat pramuwisma dan satpam.

Kegiatan bertajuk Remaja Pelopor Santun di Jalan juga merupakan hasil kerja sama FKPM dan Polres Surabaya Timur. Begitu pula program "Klik Byar" yang mengkreasi lampu depan sepeda motor otomatis hidup ketika distarter.

FKPM NE beberapa waktu lalu juga berhasil menggagalkan usaha perampokan di wilayahnya. "Intinya, kegiatan FKPM itu banyak, dan akan terus kami tingkatkan," ungkap Ketua FKPM NE Djoko Suwondo. (rio/c10/fid)

Sumber: JawaPos

Catatan dari Polda


Kapolwiltabes Surabaya Drs. Ike Edwin mengecek pasukan apel bersama FKPM (foto:polda/humas/dita)

Kapolwil Tabes Surabaya Kombes Pol Drs. Ike Edwin bertindak sebagai Irup Apel Bersama Forum Kemitraan Kepolisian Masyarakat se wilayah Surabaya Timur yang didikuti 1500 orang bertempat di Parkir Galaxy Mall Suarabaya Sabtu 8/5.

Ditegaskan Kapolwil bahwa dengan kehadiran para FKPM ini, sangat membantu tugas Kepolisian khususnya di wilayah Surabya , mengingat jumlah Polisi sangat terbatas dibandingkan dengan jumlah penduduk Surabaya berbanding 1 ; 1000 orang.

Hiburan Joget bersama anggota FKPM (foto:polda/humas/dita)

FKPM diwilayah Surabaya timur ini , juga pernah mendapat kunjungan dari Polisi Jepan, para siswa Taruna / Taruni Akpol Semarang.

Sumber: Polda

Sabtu, 08 Mei 2010

Artikel dari ngeluyuran.blogspot.com

Hutan Wisata Mangrove Di Surabaya

Tidak banyak yang tahu jika Surabaya yang panas ini memiliki hutan wisata yang bernama hutan wisata Mangrove. Disebut demikian karena di daerah ini sebagai pelestarian pohon bakau (mangrove) yang harus dijaga. Hutan wisata mangrove terletak di Pantai Timur Surabaya, Kelurahan Wonorejo, Kecamatan Rungkut. Area wisata yang berada sekitar 2 km arah timur kampus UPN ini, selain menonjolkan hutan mangrove yang alami, juga dilengkapi dengan binatang-binatang, diantaranya monyet berekor panjang dan berbagai jenis burung di sepanjang perjalanan menuju area mangrove. Jika kita masuk ke area mangrove, kita hanya melihat hutan mangrove dan laut yang dilengkapi dengan flora fauna yang menarik. Diketahui ada 44 jenis burung migran yang singgah di sini dan kebanyakan burung tersebut berasal dari Benua Australia menuju Eropa.

Untuk menuju ke lokasi ini, harus melalui jalan yang agak sempit, bergelombang dan tidak beraspal, melewati tambak-tambak dan di sebelah kanan terdapat sungai kecil, Dengan berpatokan pada Jembatan MERR-II C di perumahan Pondok Nirwana atau kampus STIKOM, ikuti terus jalan yang ada di depan STIKOM tersebut mengikuti arah sungai, melewati sekolah IPH, Hotel Teratai, kantor taxi ORENZ dan workshop konstruksi baja Kalimaya, setelah sampai di gudang alat berat milik Kalimaya Steel, beloklah ke kanan. Di pertigaan tersebut sudah ada papan petunjuk ke kawasan Ekowisata Mangrove. Setelah sampai di Bozem Wonorejo, parkirlah kendaraan, lalu membeli tiket masuk dan naik perahu menuju lokasi hutan mangrove.

Wisata alam Mangrove terletak di kawasan Pantai Timur Surabaya yang letaknya di tepi Selat Madura yang tidak terlalu luas, dengan bentang alam yang datar dengan kemiringan antara 0-3 persen. Kawasan ini terbentuk sebagai hasil endapan dari sistem sungai yang ada di sekitarnya dan pengaruh laut. Kondisi daerah delta dengan tanah aluvial merupakan habitat yang baik bagi terbentuknya ekosistem mangrove. Secara geografis dan ekologis, kawasan Pantai timur Surabaya memiliki fungsi yang sangat penting, salah satunya adalah mencegah ancaman intrusi air laut. Keberadaan hutan mangrove ini memiliki fungsi menjernihkan limbah terutama logam berat yang masuk ke laut.

Untuk melihat kekayaan alam di Hutan Mangrove, pengunjung harus menggunakan perahu yang dipandu oleh pemandu wisata dari pemuda-pemudi karang taruna setempat. Sebuah perahu motor berkapasitas maksimal 40 orang disiapkan untuk menikmati keindahan lokasi itu. Untuk pengamanan, disediakan pelampung dan fasilitas wisata lainnya. Perahu biasanya bergerak mulai dari dermaga Sungai Wonokromo menuju Selat Madura. Para pengunjung bisa menikmati rimbunan hutan mangrove, burung-burung yang beterbangan dan hinggap di ranting-ranting pohon mangrove. Di hutan mangrove tersebut terdapat Pos Pantau Mangrove yang biasanya digunakan untuk istirahat sambil menikmati makanan ringan. Dengan adanya hutan Mangrove ini, diharapkan untuk mencegah terjadinya pemanasan global. Karena kawasan pantai timur seperti ini rentan terhadap imbas pemanasan global, karena langsung berhadapan dengan laut.

Jumat, 07 Mei 2010

FKPMNE terbentur masalah dana


Djoko Suwondo mengakui banyak FKPM tidak bisa maksimal dalam pelaksanaanya. Sebagai polisi, dirinya tahu pasti masalahnya karena terbentur dana. Sebab FKPM tidak mendapatkan suntikan dana dari pihak manapun.

“Dana Operasional FKPM murni berasal dari Swadaya Masyarakat.” Katanya. Untuk bisa mendapatkan dan dari masyarakat, lanjut Djoko , pengurus FKPM harus bekerja keras mensosialisasikan FKPM ke masyarakat secara aktif. Itupun tidak mudah dilakukan sebab tidak sedikit masyarakat yang masih belum paham tentang apa fungsi dan peranan FKPM dalam menjaga dan menciptakan lingkungan yang aman, tentram, dan terkendali di lingkungan tempat tinggal mereka.

FKPM dibentuk berdasarkan SKEP.KAPOLRI No.Pol:SKEP/737/IX/2005, tanggal 13 Oktober 2005 ttg Kebijakan dan Strategi Penerapan Model Polmas bererta turunanya. "FKPMNE sendiri baru berdiri di Rungkut pada 17 September 2007,  dan semenjak itu pula, kami gencar melakukan sosialisasi", papar Djoko . "Tidak mudah memang, alhamdulilah berkat usaha keras dan pendekatan secara persuasive dengan warga sekitar, keberadaan FKPM mendapat banyak dukungan dari masyakat,” tutur Djoko suwondo panjang.

Inilah salah satu pernyataan KABAG Binamitra Polwiltabes Surabaya AKBP. Sri Setyo rahayu. FORUM KEMITRAAN POLISI MASYARAKAT sangat berperan dalam mengamankan lingkungan. Namun optimalnya peran itu sangat bergantung pada tingkat kepercayaan masyarakat pada polisi. Kalau polisi tidak dipercaya, maka peran FKPM tidak akan berjalan, tegasnya (22/9).

Sekarang anggota kami sudah mencapai 50 orang, yang terdiri dari RW-RT-Satpam juga ada tambahan dari Warga tambak yang bergabung ke FKPM Nirwana Eksekutif, warga tambak dilibatkan ke FKPM-NE, karena pentingnya hutan Konservasi Mangrove bagi seluruh umat manusia yang ada di bumi ini, jadi patut kita jaga dan kita lestarikan ujar Djoko Suwondo yang yang juga terpilih sebagai pengelola Lembaga Ekowisata bersama Wakil Ketua FKPM Adi Pramono.

Djoko sadar untuk meningkatkan kualitas standard keamanan membutuhkan dana yang tidak sedikit. Hanya mengandalkan dana swadaya dari masyarakat tidak akan mencukupi kebutuhan. Untuk itulah, Djoko tidak segan untuk menginstruksikan anak buahnya untuk melakukan pengelolaan Ekowisata Mangrove, sebagai upaya untuk memperoleh dana operasional untuk FKPM NE, sekaligus untuk mendapatkan simpati pimpinan. Ekowisata Mangrove (EWM) juga sudah dikukuhkan dalam akta notaris, sehingga sayap bisnis FKPMNE ini diharapkan djoko untuk dapat terus berdiri tanpa gangguan dari pihak manapun, termasuk dari masyarakat lokal yang dulunya merupakan pengurus hutan mangrove. EWM ini mendapat dana dari hasil pungutan para wisatawan yang mampir ke hutan mangrove wonorejo, pungutan biaya penanaman mangrove, dan juga penncarian dana CSR dari berbagai perusahaan besar, bersama-sama dengan pak Irvan, camat rungkut, tambah Djoko suwondo.   

Tapi saya cukup gembira sebab sekarang kami juga diperhatikan, dengan dibantunya tenaga pelatihan dari Polsek Rungkut dan Polres Surabaya Timur, dan tidak segan-segan Kapolres sendiri yang turun untuk membantu kami, dalam hal kegiatan apel, simulasi dan kegiatan lainnya, sehingga kami merasa terbantukan. Yang mana dulu biaya-biaya yang dikeluarkan untuk trainer sekarang sudah tidak ada. KABAG. Bina mitra Polwiltabes Surabaya juga memberikan dukungan dan dorongan kepada kami. Djoko menambahkan, bagi pengurus FKPM lain yang terkendala oleh masalah dana, setidaknya ada kabar gembira. Sebab didalam buku Panduan Polmas falsafah pemolisian 2008 yang baru dari Mabes Polri dijelaskan, saat ini di tingkat pusat sedang mencoba menggandeng menpora. Kedepan, FKPM bisa mendapatkan dana dari APBD pemerintahan daerah.

Djoko berharapkerjasama di tingkat pusat yang saat ini masih dalam proses penggodokan bisa segera disepakati. Sehingga, FKPM dapat benar-benar berfungsi sesuai dengan Moto FKPM yaitu menjadikan polisi bagi diri sendiri sehingga kita tidak menjadi korban dan pelaku tindak kejahatan. (K1)

Kamis, 06 Mei 2010

Artikel Foto dari Antara

Peduli Lingkungan


Foto
SRM V Pelumas Pertamina, Waljiyanto (ketiga kanan) bersama mahasiswa dan anggota Forum Kemitraan Polisi dan Masyarakat (FKPM), menanam bibit mangrove, di kawasan Eko Wisata Mangrove, Wonorejo, Surabaya, Kamis (6/5). Kegiatan Pertamina Youth Program 2010 yang digelar Pertamina Pemasaran dan Niaga dan Balinus yang diikuti 34 mahasiswa dari 28 perguruan tinggi (Jatim, Bali, NTB dan NTT) tersebut, untuk mengembangkan wisata alam yang berbasis komunitas.

(eric ireng/antara/nbc/jie)

foto hutan mangrove

SURABAYA, 6/5 - HUTAN MANGROVE. Sejumlah petani tambak menanam bibit mangrove dalam bambu, di hutan mangrove kawasan Wonorejo, Surabaya, Kamis (6/5). Petani tambak dan amggota Forum Kemitraan Polisi dan Masyarakat (FKPM), melakukan pemeliharaan dan pengawasan hutan bakau di wilayah pantai timur Surabaya, karena keberadaan hutan mangrove dapat melindungi tambak dan daratan di wilayah tersebut.FOTO ANTARA/Eric Ireng/ss/ama/10

Sumber: Antara

Artikel mangrove Sidoarjo

Sidoarjo Butuh Pol PP Air

Kamis, 6 Mei 2010 | 11:25 WIB

SIDOARJO - Anggota Komisi C DPRD Sidoarjo, I Wayan Dendra yang juga Ketua DPC Partai Hanura Sidoarjo mengatakan Sidoarjo saat ini sangat memerlukan terbentuknya satuan Polisi Pamong Praja (Pol PP) yang khusus mengawasi perairan.

Ide itu dia lontarkan setelah mendapat kabar tentang maraknya pembalakan liar hutan mangrove di pesisir timur Sidoarjo, akhir-akhir ini. "Dari dulu saya sudah usulkan, agar Pol PP air itu segera dibentuk," ujarnya, Kamis (6/5).

Politisi asal Jembaran Bali berpendapat perlunya dibentuk Pol PP khusus air itu, karena selama ini Pemkab cukup lemah dalam mengawal kebijakannya yanbg diterapkan di daerah pesisir.

Sementara, Sidoarjo memiliki kawasan pesisir yang cukup luas Data dari situs web resmi Pemkab Sidoarjo menyebutkan bahwa Sidoarjo memiliki daerah air tanah, payau, dan air asin mencapai luas 16.312.69 Ha. Kedalaman air tanah rata-rata 0-5 m dari permukaan tanah.

"Nah, areal seluas itu selama ini selalu luput dari pengawasan. Akibatnya ya sepertio ini, marak pembalakan hutan mangrove. Padahal hutan mangrove itu, sebagian merupakan program yang dibiayai APBD Sidoarjo," kata Wayan dengan nada berapi-api.

Sementara itu, Kepala Bidang Kelautan Dinas Kelautan dan Perikanan Sidoarjo, Septadi Koesmantoyo mengungkapkan di kawasan pesisir Jabon paling banyak terjadi praktik pembalakan hutan mangrove. Dibandingkan dengan kawasan pesisir di daerah lain seperti Waru, Sedati, Buduran, Sidoarjo, dan Candi.

Pohon mangrove yang paling banyak diincar pembalak adalah jenis pohon api-api. Karena jenis itu mempunyai nilai ekonomis yang cukup tinggi. Yang terbanyak dicuri adalah api-api berusia 10 tahun dengan diameter batang sekitar 30 sentimeter.

"Bagan siapi-api itu, getahnya bisa dijadikan bahan untuk pewarna batik. Bisa juga diolah jadi kosmetik dan obat-obatan. Sedangkan kayunya, cukup laku di pasaran China dan Korea. Ada juga bagian lain yang bisa diolah jadi makanan dan sirup," katanya.

Untuk mengganti mangrove yang rusak akibat pembalakan liar itu, Pemkab Sidoarjo sudah merencanakan penanaman kembali pada tahun 2011 mendatang. Sebenarnya, lanjut Septadi, untuk mengantisipasi praktik pembalakan hutan mangrove sudah ada perangkat hukumnya.

Yakni Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2007 tentang pengelolahan pesisir dan pulau-pulau kecil. Hukuman pidananya 2 hingga 10 tahun. Sedangkan dendanya bisa Rp 2 miliar-10 miliar. "Tapi pengawasannya memang lemah," ungkap Septadi. tio

Sumber: surabayapost

Rabu, 05 Mei 2010

Kapal Baru FKPM-NE Untuk Ekowisata & Konservasi


Minggu tgl 2 mei 2010 bertepatan dengan HARI PENDIDIKAN NASIONAL, kapal baru Ekowisata Mangrove Yang dibeli FKPM-NE dari pasuruan sudah tiba di Bozem Wonorejo. Kapal dengan kapasitas 50 Penumpang dengan panjang 12 meter dan lebar kurang lebih 3 meter berkekuatan mesin 30 PK ini dibeli untuk menunjang kegiatan ekowisata, konservasi dan penanaman Mangrove.

Kegiatan Konservasi dan penanaman yang sekarang sangat diminati terutama dari kalangan pendidikan, mulai dari SD sampai dengan Universitas. Tingginya minat masyarakat untuk mengetahui masalah mangrove dan Konservasi Lingkungan terutama dari kalangan pendidikan merupakan hal yang positif dan masalah ini direspon oleh Djoko Suwondo Ketua FKPM-NE.

FKPM-NE mempunyai 1 Kapal berkapasitas 35 orang dengan harga sekitar 39 juta ( Dibeli dengan dana hasil Lomba kelurahan berhasil 16 Jutaan) dan sisanya merupakan dana partisipasi dari FKPM-NE, 1 kapal patroli (Speedboat), 1 perahu ketinting dari fiber untuk kebutuhan logistik. Seluruh kapal ini sudah dipergunakan oleh EKOWISATA MANGROVE disamping 1 perahu karet bantuan dari Dinas Pertanian.

Kapasitas kapal dan jumlah kapal yang sudah ada tidak mencukupi. Untuk itu FKPM-NE memutuskan menambah satu kapal lagi, untuk memenuhinya. Mengingat untuk membuat masyarakat menjadi peduli terhadap lingkungan, pengenalan mangrove sebagai tanaman pencegah abrasi tidak hanya dengan teori dan sosilisasi, tapi harus ada sarana dan prasarana ke lapangan dan melihat secara langsung agar masyarakat dapat mengerti dengan benar permasalahan lingkungan yang menurut Wakil Ketua FKPM-NE Adi Pramono sudah hampir mencapai titik 0 (Nol), ini ditandai dengan gejala alam yang sudah tidak bersahabat dan musim yang bergeser, yang akan membuat masalah baru bagi petani terutama jadwal tanam dan panen yang kacau, yang ujung-ujungnya tentu akan mempengaruhi ekonomi secara nasional, karena secara tidak langsung akan mengancam gagalnya panen nasional yang berdampak dengan naiknya harga-harga komoditi.

Keseimbangan dan keselarasan antara alam dan manusia dibutuhkan untuk menciptakan keseimbangan. Untuk itu Ketua FKPM-NE Djoko Suwondo mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk melakukan suatu tindakan yang nyata dan terbaik untuk Bumi dan hal ini harus dimulai dari diri sendiri. Untuk itu kami mengajak kalangan pendidikan untuk ikut berpartisipasi, karena mereka-mereka ini yang akan meneruskan bangsa ini, kata Djoko Suwondo pada acara Hari Pendidikan Nasional disertai dengan peluncuran Kapal baru tersebut.

Artikel FKPMNE

KAPAL BARU FKPM-NE UNTUK EKOWISATA DAN KONSERVASI

Minggu tgl 2 mei 2010 bertepatan dengan HARI PENDIDIKAN NASIONAL, kapal baru Ekowisata Mangrove Yang dibeli FKPM-NE dari pasuruan sudah tiba di Bozem Wonorejo. Kapal dengan kapasitas 50 Penumpang dengan panjang 12 meter dan lebar kurang lebih 3 meter berkekuatan mesin 30 PK ini dibeli untuk menunjang kegiatan ekowisata, konservasi dan penanaman Mangrove.

Kegiatan Konservasi dan penanaman yang sekarang sangat diminati terutama dari kalangan pendidikan. Mulai dari SD sampai dengan Universitas. Tingginya minat masyarakat untuk mengetahui masalah mangrove dan Konservasi Lingkungan terutama dari kalangan pendidikan merupakan hal yang positif dan masalah ini direspon oleh Djoko Suwondo Ketua FKPM-NE.

FKPM-NE mempunyai 1 Kapal berkapasitas 35 orang dengan harga sekitar 39 juta ( Dibeli dengan dana hasil Lomba kelurahan berhasil 16 Jutaan) dan sisanya merupakan dana partisipasi dari FKPM-NE, 1 kapal patroli (Speedboat), 1 perahu ketinting dari fiber untuk kebutuhan logistik. Seluruh kapal ini sudah dipergunakan oleh EKOWISATA MANGROVE disamping 1 perahu karet bantuan dari Dinas Pertanian.

Kapasitas kapal dan jumlah kapal yang sudah ada tidak mencukupi. Untuk itu FKPM-NE memutuskan menambah satu kapal lagi, untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Mengingat untuk membuat masyarakat menjadi peduli terhadap lingkungan, pengenalan mangrove sebagai tanaman pencegah abrasi tidak hanya dengan teori dan sosilisasi, tapi harus ada sarana dan prasarana ke lapangan dan melihat secara langsung agar masyarakat dapat mengerti dengan benar permasalahan lingkungan yang menurut Wakil Ketua FKPM-NE Adi Pramono sudah hampir mencapai titik 0 (Nol), ini ditandai dengan gejala alam yang sudah tidak bersahabat dan musim yang bergeser, yang akan membuat masalah baru bagi petani terutama jadwal tanam dan panen yang kacau, yang ujung-ujungnya tentu akan mempengaruhi ekonomi secara nasional, karena secara tidak langsung akan mengancam gagalnya panen nasional yang berdampak dengan naiknya harga-harga komoditi.

Keseimbangan dan keselarasan antara alam dan manusia dibutuhkan untuk menciptakan keseimbangan. Untuk itu Ketua FKPM-NE Djoko Suwondo mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk melakukan suatu tindakan yang nyata dan terbaik untuk Bumi dan hal ini harus dimulai dari diri sendiri. Untuk itu kami mengajak kalangan pendidikan untuk ikut berpartisipasi, karena mereka-mereka ini yang akan meneruskan bangsa ini, kata Djoko Suwondo pada acara Hari Pendidikan Nasional disertai dengan peluncuran Kapal baru tersebut.

Sabtu, 01 Mei 2010

Tulisan dari Blog SMU Muhammadiyah 6

BERWISATA KE MANGROVE WONOREJO

Pagi itu terasa berbeda dalam pembelajaran siswa kelas IV-B SD Muhammadiyah 6 Gadung. Biasanya kegiatan belajar mengajar dilaksanakan di ruang tertutup dengan penyejuk Air Conditioning atau AC, dan yang terlihatpun tidak lebih dari benda-benda mati berupa buku, tas, dan beberapa alat peraga atau kreatifitas siswa yang dipajang di sudut-sudut dinding.

Tetapi sangat berbeda untuk kali ini, buku, pensil, papan tulis dan beberapa alat peraga tidak tampak lagi didepan mata, yang tampak hanyalah indahnya alam pesisir pantai yang dihiasi rimbunnya tetumbuhan indah nan menarik, menyebabkan mata tidak ingin segera beranjak untuk terus menikmatinya, suasana sejuk dipadu semilir angin segar dapat dirasakan secara langsung oleh ke 28 siswa itu, ratusan burung bangau putih yang terbang bebas di angkasa begitu tampak jelas menghiasi indahnya objek wisata yang baru diresmikan tiga tahun yang lalu itu.

Yah . . , itulah salah satu daerah wisata kebanggaan Kota Surabaya yang sangat menarik untuk dikunjugi akhir-akhir ini, Wisata Mangrove Wonorejo namanya, daerah wisata yang terletak di ujung timur kota Surabaya.

Wisata alam yang kini pengelolaannya dipegang oleh Lembaga Ekowisata Wonorejo, Forum Komunikasi Polisi Masyarakat (FKPM) Kecamatan Rungkut itu menjadi daya tarik bagi guru kelas IV-B, Bapak Imam Masyhuri untuk melaksanakan pembelajarannya di lokasi wisata pesisir laut yang dihiasi dengan tumbuhan bakau tersebut. Selain berwisata, siswa juga dikenalkan secara langsung ekosistem, lingkungan pantai, dan konservasi alam serta kegiatan ekonomi yang dapat dilakukan oleh masyarakat sekitar wilayah tersebut.

Pembelajaran yang dilaksanakan tanggal 22 April 2010 itu membawa keceriaan tersendiri bagi siswa kelas IV yang tidak lama lagi akan menjadi siswa kelas V, salah satunya adalah Zita, ia begitu terkesan dengan lingkungan wisata itu, “ Subhanallah, selain dapat menikmati segarnya hawa pesisir, saya juga bisa berkeliling menyusuri pantai berhutan bakau, pokoknya bagus dech“, ungkap siswa yang memperoleh peringkat 5 pada kegiatan evaluasi / TTS 2 minggu yang lalu..(har)

Sumber: sdmuh6gadung-sby