Selasa, 13 Oktober 2009

Artikel dari KeSEMaT

Sekilas Ulasan Artikel Mangrove Pemenang KeSEMaTCOMPETITION 2009: Bottom Up Yes



Written by KeSEMaT
Friday, 13 November 2009

Semarang - KeSEMaTONLINE. Kata siapa anak SMA tidak tahu mangrove (?). Walaupun mangrove memang tidak pernah diajarkan di TK sampai dengan perguruan tinggi, namun kedua pelajar yang fotonya ada di samping ini, yaitu Emi Nur Cholidah (Emi) dan Fatimatuzahro (Ima), keduanya pelajar dari SMA Al-Multazam Mojokerto, ternyata memiliki pengertian yang baik tentang mangrove. Mereka mampu mendeskripsikan program-program mangrove yang telah dilakukan oleh pemerintah kota Surabaya dalam upaya pelestarian mangrove di Kota Pahlawan, itu.

Tak hanya itu, keduanya juga “lincah” merangkai kata dalam mengidentifikasi peran serta masyarakat sekitar, terhadap ekosistem mangrove yang masih tersisa di Surabaya. Maka, tak heran apabila artikel Emi dan Ima yang berjudul Mangrove is Natural Heritage - Program Pemberdayaan Masyarakat untuk Meningkatkan Kegiatan Pelestarian Mangrove di Surabaya, dianugerahi oleh Dewan Juri KeSEMaTCOMPETITION (KC) 2009: Lomba Penulisan Artikel Mangrove Tingkat SMA dan SMK se-Indonesia, sebagai salah satu pemenang KC 2009.

Dari banyak hal yang ditulis dalam artikelnya, ada satu hal menarik dari pemikiran Emi dan Ima, yaitu bahwa konsep pengelolaan ekosistem mangrove dari “bawah ke atas” atau yang sering digaungkan sebagai konsep “bottom up,” rupanya telah dipahami dengan baik oleh mereka. Cermatilah sebuah paragrap, yang ditulis Emi dan Ima, dalam karya tulis ilmiah mereka, di bawah ini.

"...berbagai upaya telah banyak dilakukan dalam rangka pelestarian mangrove. Akan tetapi, upaya seperti ini terkadang tidak membuahkan hasil yang memuaskan. Hal ini disebabkan karena tidak adanya peran serta masyarakat setempat yang seharusnya lebih mengetahui tentang mangrove. Pemerintah hanya dapat memerintah, sedangkan masyarakat langsung melaksanakan perintah atasan (top down) tanpa terlebih dahulu meminta pendapat masyarakat. Masyarakat berpikiran bahwa hutan mangrove yang berada di pesisir, sepenuhnya milik pemerintah. Pemerintah Kota Surabaya, telah menggalakan program pemberdayaan masyarakat dengan pendekatan kepada masyarakat (bottom up) untuk mengajak masyarakat membangun kembali hutan mangrove yang ada di Kecamatan Wonorejo, Rungkut Surabaya. Hasilnya, pemerintah Kota Surabaya berhasil membuktikan bahwa mereka mampu mengajak masyarakat untuk melestarikan mangrove di sekitarnya. Program tersebut adalah berupa program penanaman mangrove masyarakat bersama dengan pemerintah yang dilaksanakan secara rutin hingga saat ini. Selain itu, hutan mangrove Kecamatan Wonorejo Rungkut Surabaya juga dijadikan sebagai wisata mangrove yang dikenal dengan Mangrove Center (MC)...”

Sepenggal paragrap yang ditulis oleh dua siswi SMA Al-Multazam Mojokerto ini, seakan menyadarkan diri kita bahwa konsep pelestarian mangrove yang sepertinya selalu dikonsep dari atas tanpa adanya sosialisasi terlebih dahulu dengan masyarakat sekitar akan menyebabkan program rehabilitasi mangrove berjalan tidak maksimal. Sebaliknya, keduanya mengharapkan agar pemerintah bisa lebih bertindak arif dan bijaksana dengan cara lebih banyak “bergaul” dengan masyarakat, sebelum kemudian program rehabilitasi mangrove dilaksanakan ke masyarakat. Kalau melihat pemikiran para pelajar SMA sudah seperti ini, maka siapa yang masih menganggap bahwa anak SMA tidak tahu mangrove (?).

Demikian, sekilas ulasan artikel mangrove Pemenang KC 2009. Secara keseluruhan, dengan semangat konsep bottom up dari SMA Al-Multazam Mojokerto Surabaya, sebuah kampanye pengelolaan mangrove, berjargon Bottom Up Yes, Top Down No! semoga saja mulai bisa kita kampanyekan kepada masyarakat luas di seluruh Indonesia dan dunia. Salam MANGROVER!

Last Updated ( Friday, 13 November 2009 )

Rabu, 07 Oktober 2009

Lulut Sri Yuliani, Kreator Batik Seru Berbahan Warna Mangrove

[ Rabu, 07 Oktober 2009 ]
Lulut Sri Yuliani, Kreator Batik Seru Berbahan Warna Mangrove
Masih Produksi Berdasarkan Pesanan

Berawal dari keprihatinan terhadap pembalakan mangrove, Lulut Sri Yuliani mengkreasi batik mangrove. Selain motif, fasilitator lingkungan hidup itu membuat pewarnaan kain batik dari daun, buah, dan bunga mangrove.

IGNA ARDIANI ASTUTI

---

ADA batik unik yang dipajang dalam pameran Exotica Batik di Hotel Java Paragon, 2--4 Oktober lalu. Yaitu, Batik Seru, singkatan dari seni batik motif mangrove Rungkut Surabaya. Batik tersebut merupakan hasil seni kerajinan ibu-ibu dari Kecamatan Rungkut.

Mereka pamer karya di antara deretan batik Nusantara dari Banyumas, Madura, dan Pekalongan untuk memperingati penetapan batik sebagai bagian dari pusaka dunia. Dari pameran tersebut, ibu-ibu Kecamatan Rungkut mendapat order 16 potong kain. ''Itu belum termasuk pesanan dari pihak lain. Misalnya, dari Kementerian Kelautan serta dinas-dinas di Surabaya,'' kata Lulut Sri Yuliani, penggagas Batik Seru.

Sampai saat ini ibu-ibu tersebut memang menjajakan karyanya dengan cara by order only. ''Yah, karena keterbatasan modal dan tenaga,'' kata Lulut. Batik Seru menggunakan dua macam bahan, katun primisima kualitas 1 (KW1) dan sutra.

Pesanan yang cukup banyak itu membuat Lulut dan timnya, yang berjumlah 60 orang, makin sibuk. ''Kalau dulu kerjanya hanya waktu senggang, sekarang harus dioptimalkan. Setiap hari memproduksi batik,'' ujarnya. Meski begitu, penyebarannya belum banyak. Padahal, tak sedikit gerai batik dalam dan luar kota bersedia menampung batik mangrove tersebut. ''Sekarang saya berjuang mencari tambahan modal untuk memasarkan,'' katanya.

Dari tampilan motif, batik tersebut memang berbeda dari batik Nusantara yang lain. Motifnya khas, buah dan daun mangrove. Misalnya, buah kira-kira (xylocarpus granatum), gedangan (aegiceras corniculatum), buyuk (nypa fruticans-palmae), dan tanjang merah (bruguiera gymnorrhiza). Batik tersebut juga menggunakan bahan pewarna dari mangrove. Bahan alami itu menyepuhkan warna lembut tersendiri.

Ide batik mangrove muncul karena keprihatinan Lulut terhadap pembalakan liar besar-besaran hutan mangrove pada 2007. Perempuan 44 tahun itu lantas mencari cara untuk membangkitkan kepedulian warga terhadap kelestarian hutan mangrove. ''Kenapa tidak dengan batik?'' katanya. ''Apalagi, dulu Surabaya juga punya sejarah sebagai salah satu sentra batik,'' sambungnya.

Ide itu lalu dipaparkan pada kelompoknya, kerajinan ibu-ibu Rungkut. Namun, banyak yang menentang. Batik mangrove dianggap tidak punya daya jual. Meski begitu, Lulut jalan terus. Bahkan, pada 2008 dia sudah merancang 23 motif batik khas mangrove.

Inspirasi itu muncul setelah Camat Rungkut Irvan Widyanto yang baru pulang dari konferensi hutan mangrove di Bali memberinya buku panduan mangrove. ''Saya buat sebisa saya dengan panduan buku tersebut,'' katanya.

Setelah membuat desain, dia mengajukan proposal ke Dinas Tenaga Kerja agar disediakan tenaga pelatih batik. ''Seperti yang saya duga, tidak mulus,'' katanya. Tapi, Lulut tetap ngotot. Setelah dua minggu negosiasi, istri Budiono Halim tersebut mengantongi izin. Pelatihan batik pun digelar lima hari. Pesertanya ya ibu-ibu dari Kecamatan Rungkut.

Tak kurang dari 25 kelompok yang terlibat. Seusai pelatihan, Lulut melanjutkan langkahnya mendatangi Dewan Kerajinan Nasional Daerah Surabaya (Dekranasda) pimpinan Tjahjani Retno Wilis, istri Wawali Surabaya Arif Afandi. Tujuannya, untuk produksi sekaligus pembinaan desain dan kualitas. ''Setelah itu kami bekerja sama dengan UK Petra untuk pelatihan teknik membatik, membuat desain, dan pewarnaan lagi supaya lebih mantap,'' jelas ibu satu anak tersebut.

Lulut sengaja menggandeng akademisi, tidak perajin batik, agar tidak terpengaruh. ''Kami tidak ingin terpengaruh batik Jawa Tengahan atau batik dari daerah lain. Kami ingin mengembangkan batik sendiri, batik mangrove,'' kataya.

Setelah batik mangrove terealisasi, magister manajemen STIE Mahardika itu mencoba membuat pewarna dari bahan mangrove. Lulut memanfaatkan limbah mangrove yang banyak diolah jadi dodol, sirup, atau jenang.

Mantan guru SMK itu memang pernah mendapat ilmu bahwa bahan-bahan alami bisa dibuat sebagai bahan pewarna. Bedanya, untuk menghasilkan pewarna tersebut butuh waktu dua bulan. ''Rasanya kok lama sekali. Saya yakin itu bisa dibuat lebih singkat,'' katanya.

Lulut pun melakukan eksperimen sendiri. Dia menggunakan bahan daun, batang, bunga, dan sampah kulit buah mangrove. Bahan-bahan itu dirajang, kemudian direbus dua minggu, setiap hari satu jam.

Perebusan rutin tersebut menghasilkan warna yang makin lama makin kuat. Ini yang dijadikan sebagai bahan pewarna batik. Namun, bahan alami berisiko busuk. Pembusukan biasanya terjadi dalam waktu seminggu yang ditandai dengan munculnya jamur.

''Kalau sudah berjamur, pewarnanya tidak bisa digunakan. Warna yang dihasilkan sudah berbeda,'' kata perempuan yang menjalankan percobaan tersebut dua bulan. Dia segera mencari solusi. Pewarna alami yang sudah jadi itu diikat dengan bahan pengikat warna. Pembubuhan bahan itu bisa memperpanjang usia pewarna sampai dua bulan.

Bahan alam tersebut bisa menghasilkan macam-macam warna. Mulai hijau, cokelat, merah, kuning, biru, dan ungu. Warna hijau berasal dari daun mangrove, sepuhan cokelat dihasilkan kulit, kuning dari getah buah, sedangkan ungu dari campuran caping buah dan kulit buah.

Berbeda dengan pewarna kimia, warna alam tersebut memang tidak bisa menghasilkan sepuhan warna yang kuat. Warna-warna yang dihasilkan cenderung lembut. Karena warna yang lembut itu, perawatan kain yang disepuh juga harus khusus agar tidak cepat pudar. ''Menjemurnya jangan langsung terkena matahari,'' kata Lulut. Demikian juga mencucinya, sebaiknya tidak menggunakan deterjen. ''Kami juga membuat sabun cuci sendiri, berbahan mangrove dan lerak,'' lanjut ibunda Nadia Chrissanty Halim itu.

Batik Rungkut itu sangat mungkin berkembang lebih luas. Juni lalu dipamerkan di Singapura. Dari delapan kain yang dipamerkan, empat terjual. Saat ini Lulut mengurus proses hak paten Batik Seru. ''Kami akan terus mengenalkan batik ini. Namun, yang paling penting adalah kesadaran masyarakat terhadap pelestarian mangrove,'' ujarnya. (*/cfu)

Sumber: JawaPos

Senin, 05 Oktober 2009

Artikel batik motif mangrove dari Kompas

Sirvega dan batik seru

Lulut juga mencoba membuat sabun alami dari buah-buah mangrove. Pelatihan yang diadakan pemerintah memberinya pengetahuan. Namun, resepnya tetap harus dicari dari berbagai referensi dan eksperimen.


Setelah setahun mencoba-coba, pada 2006 Lulut dan kader lingkungan sekitarnya mulai memproduksi sirvega, sabun cair mangrove toga. Sirvega pencuci batik dibuat dari mangrove jenis Jijibus jujuba, lidah buaya, dan lerak. Adapun buah nyamplung (Calophyllum inophyllum) diolah menjadi sabun untuk mencuci piring, cuci tangan, mencuci kendaraan, dan sampo.

Karena dibuat dari bahan alami, bekas cucian dengan sabun sirvega itu tak merusak lingkungan. Sehabis mencuci peralatan, sisa sabun sirvega dia gunakan untuk menyiram tanaman di teras rumahnya.

Tahun ini Lulut mendesain pakem batik mangrove. Sebanyak 44 desain seni batik motif mangrove Rungkut Surabaya (seru) dia siapkan. Semua mengambil bentuk beragam mangrove, mulai dari daun, bunga, sampai untaian buah, serta makhluk yang hidup di sekitarnya, seperti ikan, kepiting, dan udang. Setiap motif dilengkapi nama jenis mangrove yang spesifik, baik dalam nama Latin maupun nama daerah dan motif tambahannya.

Motif tanjang putih, misalnya, menggunakan bentuk mangrove jenis Bruguiera cylinelrica dengan komponen tambahan Rhizophoraceae. Motif pohon lengkap, dari akar, daun, dan tunas yang menjulur, menjadi motif utama dikelilingi jajaran bunga. Motif Bruguiera cylinelrica ini berselang-seling dengan motif bunga Rhizophoraceae.

Motif mange kasihan beda lagi. Gambar utamanya adalah tumbuhan mange kasihan (Aegicera floridum) dikelilingi hiasan bunga Myrsinaceae. Selain itu, gambar kepiting, ikan, dan udang memberi nuansa pesisiran pada motif itu.

Supaya sesuai karakter Suroboyoan yang apa adanya dan terbuka, teknik membatiknya pun tak selalu menggunakan canting. Sebagian dilukis dengan kuas. Maka, batik mangrove Lulut terlihat bergaris lebih tebal dan kuat.

Pewarnanya dia buat sendiri dari berbagai bagian mangrove, ditambah bahan lain. Warna merah, misalnya, dibuat dari caping bunga dan buah Bruguiera gymnorrhiza, kulit cabai merah, dan secang. Untuk menghasilkan warna kuning, ia menggunakan getah nyamplung, kunyit, dan batu gambir. Ketika bahan-bahan pewarna alami itu mulai mengendap, Lulut akan mengolahnya lagi supaya bisa digunakan kembali.

Selain menggunakan pewarna alam, batik mangrove yang diciptakan Lulut bersama perajin di Kedung Baruk sejak Juli 2009 bisa dikatakan eksklusif. Sebab, setiap perajin mengatur komposisi desain sendiri. Lulut hanya menyiapkan pakemnya.

”Saya ingin setiap karya itu orisinal, dan mengajarkan supaya ibu-ibu perajin tak menjiplak,” kata Lulut.

Ketika mengajar menggambar, dia kerap mendapati gambar seragam, seperti pemandangan dengan dua gunung, matahari, dan sawah, atau gambar seragam vas dengan dua tangkai bunga.

Perkumpulan perajin batik mangrove yang berpusat di tempat tinggal Lulut, Wisma Kedung Asem Indah, diberi nama Griya Karya Tiara Kusuma. Maksudnya, dari rumah semua bisa berkarya mengharumkan nama bangsa dan memakmurkan keluarga.

Lulut sudah mendampingi ibu-ibu perajin di enam kelurahan di Rungkut. Di tiga kelurahan, yakni Kalirungkut, Wonorejo, dan Kedung Baruk, terdapat 60 perajin batik. Jika perajin di Kedung Baruk menggunakan pewarna alam, perajin di dua kelurahan lain menggunakan pewarna kimia.

Proses pembuatan batik dengan pewarna kimia sedikit lebih mudah, hanya memakan waktu seminggu untuk selembar batik. Sebaliknya, pembuatan selembar batik dengan warna alam memerlukan waktu sebulan.

Batik mangrove adalah salah satu batik khas Surabaya. Sebelumnya dikenal batik bermotif sawunggaling dan suroboyo.

Untuk mengenalkan batik mangrove yang diciptakannya, Lulut mengikuti pameran, baik di Surabaya, Jakarta, maupun di luar negeri. Dia selalu siap membawa contoh kain batik mangrove, sabun sirvega, dan contoh buah, daun, dan bunga beragam jenis mangrove.

Satu-satunya kendala dalam pengembangan batik mangrove adalah permodalan. Untuk membuat contoh batik dari 44 motif itu, Lulut memerlukan dana sekitar Rp 40 juta.

Dari sisi perajin, dia mengatakan, relatif tak ada masalah. Rencananya, tambah Lulut yang sejak tahun 2009 menjadi pendamping Usaha Kecil dan Menengah Dinas Tenaga Kerja Surabaya, akan kembali dilangsungkan pelatihan membatik kepada lebih banyak ibu di Kedung Baruk. Dengan demikian, semakin banyak orang yang bisa membuat kerajinan batik mangrove membuat lingkungan terjaga dan rumah tangga bisa makin sejahtera.

http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2009/11/05/08483491/Lulut.Sri.Yuliani.dan.Batik.Mangrove

Minggu, 04 Oktober 2009

SMS-based Information System for Traffic Offences (Surabaya, Indonesia)

polisisms

Beri Jadwal Sidang hingga Besar Denda

Inovasi di kepolisian biasanya lahir di tingkat satuan tinggi, semacam Mabes Polri, polda, hingga polwiltabes. Kali ini, acungan jempol diberikan untuk Polres Surabaya Timur. Di wilayah itu, lahir terobosan baru layanan kepolisian. Namanya Sistem Informasi Tilang via SMS.

”NAMA singkatnya ada, lho,” ujar Kasatlantas Polres Surabaya Timur AKP Budi Idayati kepada Jawa Pos di sela-sela launching Sistem Informasi Tilang via SMS kemarin (3/10). Secara singkat, layanan anyar itu disebut SMS Tilang. Sesuai namanya, tujuannya mengetahui info tilang yang dilakukan kepolisian kepada para pelanggar peraturan lalu lintas.

SMS Tilang dirancang Satlantas Polres Surabaya Timur. Mereka bekerja sama dengan Telkomsel. Nomor hotline yang digunakan adalah 08123011110.

Dengan SMS Tilang itu, kata Idayati, warga metropolis, khususnya yang ada di Surabaya Timur, bisa secara mudah dan cepat mengetahui aneka informasi tentang penilangan kendaraan mereka. Misalnya, informasi jadwal sidang tilang, denda yang harus dibayar, hingga kelengkapan yang sedang disita dari kendaraan pelanggar. ”Semua ada dalam satu SMS saja,” kata Kasatlantas yang baru menjabat selama 40 hari itu.

Launching tersebut dilaksanakan sekitar pukul 14.00 di hall atrium ITC Mega Grosir. Kapolwiltabes Surabaya Kombespol Ronny Franky Sompie hadir. Selain itu, ada Kasatlantas Polwiltabes Surabaya AKBP Agus Wijayanto, Kapolres Surabaya Timur AKBP Samudi, Kapolres Surabaya Utara AKBP Djoko Hariutomo, Kapolres KP3 AKBP Gagas Nugraha, dan Kapolres Surabaya Selatan AKBP Lakoni Wira Negara. Dari luar kota, hadir Kapolres Gresik AKBP M. Iqbal dan Kapolres Sidoarjo AKBP Setija Junianta. Dari luar aparat berseragam cokelat tersebut, ada Kepala Dinas Perhubungan Surabaya Eddi dan Ketua Forum Kemitraan Polisi-Masyarakat (FKPM) Rungkut Djoko Suwondo.

Ronny F. Sompie kemarin menjelaskan banyak hal tentang kelemahan surat tilang selama ini. Mulai titip tilang hingga surat tilang ketlisut, robek-robek, hingga hilang. Kalau demikian, kata Ronny, warga biasanya lupa datang ke pengadilan. ”Terus milih titip sidang,” kata perwira menengah dengan tiga mawar di pundak itu.

Dia juga berharap, sistem baru itu bisa menjadi salah satu cara masyarakat mengawasi kerja polisi. Sebab, kata Ronny, warga seyogianya menjadi pengawas akuntabilitas polisi.

Ronny tak menutupi kesan yang sangat positif pada layanan baru tersebut. Dia berharap, inovasi SMS Tilang itu bisa ditiru dan dicoba di polres lain di jajaran Polwiltabes Surabaya. Sebab, inovasi tersebut akan dikembangkan lagi di tingkat polwiltabes. Bahkan, kata Ronny, dia membayangkan layanan itu kian mudah lantaran masyarakat hanya perlu mengirimkan SMS request ke nomor dengan empat digit saja. ”Mungkin seperti yang di TV. Ketik Reg spasi,” kata Ronny, disambut tawa yang hadir.

Tak sekadar berpidato, Ronny juga mencoba layanan tersebut. Dengan HP miliknya, dia mengetik nopol L 1682 AS, lalu mengirimkan ke hotline 08123011110. Tak lama kemudian, muncul balasan SMS. Tulisannya, Bapak ibu, saudara, saudari, mohon maaf, data tilang belum diproses. Itu disebabkan nopol yang dimasukkan tidak sedang kena tilang. ”Ya, jelas tidak ada datanya. Masak Kapolwil sampai kena tilang,” kata Djadi Galajapo, pemandu acara itu.

Ronny pun kembali mencoba. Yang dimasukkan adalah nomor yang sedang ditilang oleh Polres Surabaya Timur, yakni W 333 TI. Lalu, muncul balasan Yth, nomor registrasi 0411111A nopol W 3333 TI BB: SIM C R2 pasal 282 tanggal sidang 5/10/2009 di PN Arjuno no 16 Surabaya denda Rp 41 ribu. ”Wah, benar berhasil ini,” kata Ronny sambil menunjukkan balasan SMS yang masuk ke HP-nya.

Ronny pun kembali memuji bahwa SMS Tilang itu adalah upaya yang cerdas dalam membantu masyarakat untuk memperoleh informasi. ”Inovasi informasi serupa akan kami terapkan untuk beberapa hal lainnya,” ungkapnya.

Selain melihat uji coba SMS Tilang, undangan dihibur barongsai dan fashion show baju batik. ”Mumpung masih dekat dengan pengesahan batik sebagai warisan budaya,” kata Kasatlantas Polres Surabaya Timur AKP Budi Idayati, pencetus acara kemarin. (dan/dos)


Sumber: Jawa Pos dalam news.smsegov

Sabtu, 03 Oktober 2009

Artikel dari Koran Suroboyo.com

Batik Kepiting dan Siput

SUROBOYO - Bisa jadi ini gerakan batik akibat dislenthik, disentil, oleh negara tetangga. Padahal sekitar 30 tahun lalu gerakan swadesi mewajibkan siswa mengenakan batik setiap Sabtu. Setalah mati suri dan timbul tenggelam, mulai hari ini eforia berbatik bangkit lagi.
Beragam batik disodorkan oleh masing-masing daerah. Setiap orang mengklaim punya batik motif khas yang asli. Tak sedikit yang berusaha membuat batik dengan pakem berbeda.

Di Surabaya, keinginan membuat batik yang unik agar tetap dilirik salah satunya dilakukan oleh sekelompok ibu dengan Seni Batik Motif Mangrove Rungkut Surabaya (Seru). Seru mencakup warga enam kelurahan yang ada di Kecamatan Rungkut.
Antara lain Wonorejo, Penjaringan Sari, Rungkut Kidul, Medokan Ayu, Kali Rungkut, dan Kedung Baruk. Mereka adalah kumpulan ibu rumah tangga yang berkreasi dalam desain dan pewarnaan batik.
Karya mereka memiliki ciri khas, mengaplikasikan jenis tanaman mangrove (bakau) yang tumbuh subur di kawasan konservasi pantai Timur Surabaya. Jenis mangrove yang diterapkan sebagai motif batik antara lain Bruguiera gymnoriza, Acrostichum speciosum, dan Ceriops decandra. Kalau orang Surabaya punya istilah sendiri, yaitu bogem, nipah, nyamplung, mange kasihan, atau buli.
Kerajinan batik ini belum sebesar produksi batik Madura. Jumlah lembaran kain batik mangrove yang dihasilkan belum banyak. “Sekitar 15 lembar kain dalam sebulan dari RW VII dan VIII Kelurahan Wonorejo,” ucap Ari Bintarti, salah seorang anggota Seru yang rumahnya dijadikan pusat pembuatan batik motif mangrove Kelurahan Wonorejo.
Proses pembuatan motif tidak terlalu memikirkan komposisi, tetapi rapi dan mengandung jenis mangrove. “Gambar ikan, kepiting, atau siput dimasukkan sebagai hiasan tambahan. Binatang itu kan juga komunitas biota hutan bakau,” kata Noverita Ratnawati, anggota Seru lainnya. Nah, setelah sketsa motif ditindas lilin melalui canting tulis, dilakukan pewarnaan dengan teknik colet atau secara menyeluruh (celup). Kecuali yang memakai parafin, sebab hasilnya akan beda, terbentuk motif serat atau warna tidak merata.
Kini, selain membuat kain batik lembaran, mereka juga membuat baju batik. “Ada warga RW VII yang berprofesi sebagai penjahit. Jadi mereka selain membuat batik juga menjahit,” terang Ari. Harga jual batik ini bergantung lebar dan jenis kain. Mulai dari Rp 125.000 hingga lebih dari Rp 250.000. Berbicara batik Surabaya motif mangrove ini tidak lepas dari Lulut Sri Yuliani, warga Kelurahan Kedung Baruk, yang pertama memiliki gagasan ini. Di sisi lain, Lulut ingin masyarakat lebih mengenal dan peduli tentang mangrove.
“Mangrove segera muncul dalam pikiran saya, sebab sejak kecil suka mancing dengan orangtua di sana,” ungkap Lulut. Desain motif batik mangrove sudah disiapkan sejak tahun 2000. Awalnya hanya 23 motif yang siap, kini sudah 44 jenis motif. Pewarnanya juga alami dari mangrove yang sudah diolah. Seperti warna hijau, merah, kuning, dan biru keunguan. Lulut merasa ini harus ditularkan. Maret 2009 dia mengawali pelatihan membuat batik dengan motif mangrove pada ibu-ibu di Surabaya.
Kain yang digunakan katun dan sutera dengan harga jual Rp 100.000-300.000. Saat ini Lulut bersama kelompoknya sedang menerapkan batik mangrove pada pakaian dan kaus agar lebih modern. (ida-Surya)


Sumber: Koran Suroboyo

Kamis, 01 Oktober 2009

Artikel batik motif mangrove dari Suara Surabaya

01 Oktober 2009, 17:38:49| Laporan Agita Sukma Listyanti

Melahirkan Kembali Batik Surabaya

suarasurabaya.net| Batik Surabaya akan dilahirkan kembali. Inilah komitmen Dewan Kerajinan Nasional (Dekranas) Kota Surabaya.

Bicara soal batik, orang lebih sering merujuk ke Pekalongan, Yogyakarta dan Solo. Namun sebenarnya setiap daerah bisa menghasilkan batik dengan ciri khas masing-masing. Tak terkecuali di Surabaya.

TJAHJANI RETNO WILIS Ketua Dekranas Surabaya mengakui awalnya tidak menemukan koleksi batik asli Surabaya. Setelah melalui pencarian yang cukup panjang, geliat batik Surabaya pun mulai ditunjukkan.

“Kalau di buku Pak DUKUT (budayawan, red) dulu di Surabaya ada kampung batik. Berarti bisa jadi, memang ada batik Surabaya. Tapi, memang saya belum menemukan batik asli Surabaya,” kata WILIS sapaan akrab TJAHJANI RETNO WILIS yang ditemui suarasurabaya.net di kediamannya, Kamis (01/10).

Karena itu, WILIS melalui Dekranas Surabaya bertekad untuk melahirkan kembali batik Surabaya. Beberapa motif flora maupun fauna sudah mulai dikembangkan dengan tetap mengusung ciri khas Surabaya. Ada motif suro dan boyo, ayam jago, adu burung dara, semanggi dan yang terakhir adalah mangrove.

Saat ini, batik mangrove mulai diperkenalkan ke masyarakat sekitar Wonorejo dan Rungkut lewat Komunitas Batik SeRu (seni batik motif mangrove Rungkut Surabaya) yang digagas Ny. LULUT SRI YULIANI. Sinergi pun dibangun untuk lebih mengembangkan batik mangrove seperti menggandeng UK Petra dari sisi pewarnaannya.

Pendampingan dan pelatihan mengenai batik dengan teknik tulis diberikan kepada ibu-ibu warga Surabaya. "Sudah kerjasama dengan Bapemas untuk melatih 4-5 orang yang diberi job order. Sekarang, mereka sudah mulai terima pesanan sendiri," ujar isteri ARIF AFANDI Wakil Walikota Surabaya ini.

Diakui WILIS, batik Surabaya tidak seperti Sidoarjo ataupun Madura yang sudah lebih dulu memperkenalkan motif khasnya. Khusus Surabaya, motif batik masih harus digali dan dicari. Kunci utama adalah kreatifitas. Secara umum batik dari Jawa Timur biasanya tidak serumit batik Jawa Tengah.

Menurut WILIS, beberapa batik hasil karya khas Surabaya tidak kalah diminati sebagaimana batik Jawa Tengah. Bahkan diakui WILIS, potensi pasar untuk batik khas Surabaya sangat terbuka. Satu diantaranya lewat berbagai pameran yang difasilitasi Dekranas.

Merespon pengakuan UNESCO atas batik sebagai warisan budaya Indonesia, Dekranas pun memberikan dukungannya dengan memakai dan mempromosikan batik.(git/ipg)

Teks Foto :
- Dewi Saraswati, satu diantara batik khas Surabaya, bermotif suro-boyo.
Foto : GITA suarasurabaya.net

Artikel Batik motif mangrove dari Suara Surabaya

Jalan Terjal Batik Mangrove Suroboyo

01 Oktober 2009, 17:16:05| Laporan Eddy Prastyo

suarasurabaya.net| Di ruang tengah rumah Ny. ARI BINTARTI di Jl. Wonorejo Selatan kavling 55 itu sekitar 4 ibu PKK RW 7 dan 8 berkumpul. Mereka mulai menyalakan kompor gas kecil untuk memanaskan malam. Canting pun disiapkan, sedangkan selembar kain katun yang sudah dimotif batik sudah terbentang di atas railing kayu. Motif batik yang diukir di atas kain itu tidak biasa. Untuk orang yang sudah paham, bisa langsung tahu, itulah motif batik mangrove.

Batik mangrove sendiri belum genap setahun usianya. Diawali pelatihan yang digagas Disnaker Pemkot Surabaya di Kecamatan Rungkut Maret 2009 lalu, beberapa ibu PKK Kelurahan Wonorejo tertarik untuk mengembangkannya. Bukan faktor kebetulan, karena memang Wonorejo identik dengan hutan Mangrovenya yang ada di pesisir Timur.

Motif mangrove ini memang masih dalam pengembangan. Menurut NOVERITA RATNAWATI satu diantara anggota kelompok PKK batik mangrove, desain mangrove mulanya ditawarkan oleh fasilitator dari Kecamatan Rungkut. Setelah melalui serangkaian percobaan dan diskusi, tiga kelompok PKK di Wonorejo memodifikasi desain tersebut sehingga didapatlah desain seperti saat ini.

“Desain batik mangrove murni mengadopsi jenis-jenis mangrove yang hidup di rawa-rawa sekitar Wonorejo, seperti baringtonia, tanjang, nipah, nyamplung, dan bogem. Warna yang kami pilih adalah warna-warna yang cerah dan ngejreng. Memang ada pengaruh dari Batik Madura, tapi batik mangrove punya kekhasan sulur-sulur mangrovenya dan selalu dalam bentuk batik tulis, bukan cetak,” kata NOVERITA.

Sebagai sebuah rintisan usaha kecil menengah (UKM), diakui NOVERITA, produksi batik mangrove ini memang mengalami pasang surut. Kendala yang saat ini dirasakan adalah terkait permodalan, pewarnaan, dan pemasaran.

Untuk permodalan, kata ARI BINTARTI, usaha ini dirintis lewat modal swadaya kemudian mendapat bantuan dari Pemkot Surabaya. Lewat beberapa lomba yang dimenangkan, kelompok-kelompok batik Mangrove ini berusaha bertahan.

Pewarnaan menjadi kendala karena proses inilah yang menjadi kunci berhasilnya sebuah produk batik. Selama ini, kata ARI, kelompoknya menggunakan pewarnaan kimiawi dengan pertimbangan lebih mudah dan cepat. “Sebenarnya kita juga dapat pelatihan dari UK Petra tentang pewarnaan alami, tapi prosesnya terlalu lama sehingga kami rasa tidak ekonomis,” kata dia.

Karena dikelola secara rumahan dan sebagai kegiatan sampingan, produk batik mangrove ini pun punya keterbatasan. “Kami tidak bisa memproduksi terlalu banyak. Dalam seminggu saja, dengan 2 kelompok yang masih aktif beranggotakan 8 orang, kita hanya bisa memproduksi 15 helai kain batik tulis mangrove,” kata NOVERITA.

Untuk menembus pasar batik, kata NOVERITA, mau tidak mau memang harus dikelola secara industriak serta melibatkan banyak tenaga kerja dan modal. “Kita sih mau seperti itu. Hanya saja kami masih bingung soal pemasaran. Selama ini kami menjual produk-produk kami ke instansi-instansi pemerintah. Untuk masuk ke pasar batik, kita masih punya banyak kendala,” paparnya.

RIDWAN MUBARUN Sekretaris Kecamatan Rungkut yang menjadi fasilitator kelompok batik mangrove di Wonorejo mengatakan Pemkot Surabaya berusaha mengangkat keberadaan batik mangrove dengan menetapkannya sebagai ikon Kecamatan Rungkut. Selain itu, batik mangrove juga akan dimasukkan dalam paket ekowisata hutan mangrove yang akhir tahun ini akan diresmikan oleh Walikota Surabaya.

“Kami juga berupaya untuk memfasilitasi kelompok-kelompok ini mendapatkan hak paten atas desain batik mangrove. Untuk produknya sendiri, kami sudah berikan nama resmi SERU atau Seni Batik Motif Mangrove Surabaya,” kata RIDWAN.

Dikukuhkannya batik sebagai warisan dunia yang berasal dari Indonesia dikatakan NOVERITA sangat membanggakannya sebagai pengrajin batik. “Kita berharap batik tetap eksis, diterima oleh masyarakat dunia, dan pengrajinnya tetap bisa berkarya lebih baik,” kata dia.(edy)

Teks Foto :
1. Batik mangrove khas Surabaya yang punya desain unik
2. Ibu PKK Wonorejo membatik mangrove
Foto : EDDY suarasurabaya.net