Rabu, 20 Januari 2010

Tulisan Pengembangan Hutan mangrove Probolinggo

EKOWISATA HUTAN MANGROVE BERBASIS MAYARAKAT DI KOTA PROBOLINGGO


Oleh : * Rendra Eka A
Kawasan hutan mangrove (mangrove forest) atau yang lebih dikenal dengan hutan bakau akhir-akhir ini ramai dikembangkan untuk digunakan sebagai sebuah objek wisata alternatif (alternative tourism) untuk menarik minat wisatawan dengan nuansa yang berbeda. Hutan mangrove adalah hutan tropis yang hidup dan tumbuh di sepanjang pantai berlumpur, berpasir atau pada kawasan estuary, dimana ekosistemnya merupakan daerah transisi yang di penaruhi oleh faktor-faktor darat dan laut didalamnya terdapat komponen flora dan fauna yang beragam (Pramudji, 2000).
Komponen flora yang hidup pada hutan mangrove adalah tumbuh-tumbuhan seperti bakau (Rhizophora sp.), api-api (Avicennia sp., pedada (Sonneratia Sp.) ( Dahuri dkk, 2008) dan dari hasil penelitian sepanjang Patura Jawa Timur telah ditemukan lebih dari 25 jenis tumbuhan mangrove (Prigi Arisand, 2009). Komponen fauna didalamnya termasuk berbagai hewan air seperti kepiting bakau, kepiting renang (Scylla serrata), udang (Acetes), dan berbagi ragam ikan yang hidup di kawasan mangrove. Selain terdapat berbagai jenis burung yang sering kita jumpai seperti kuntul (Egrettaalba), Bangau Tongtong (Leptoptilos javanicus), Belibis kembang (Dendrocygna arquata), Pecuk ular (Anhinga melanogaster), dan jenis burung lainnya dan berbagai serangga seperi kupu-kupu salmonara, lebah penghasil madu dan serangga lainnya.
Dengan berbagai karakteristik dan kekhasan yang dimiliki hutan mangrove sangatlah menarik untuk dimanfaatkan sebagai ekowisata alam dengan membuat resort – resort atau homestay sehinga dapat menikmati ragam jenis flora dan fauna hutan mangrove, berperahu, memancing, nursery, spawning, resto dan di tambah dengan menikmati nuansa pesisir yang alami serta melihat lalu lalang kapal nelayan menangkap ikan.
Mewujudkan sektor pariwisata yang berbasis wisata bahari dan pantai yang menyenangkan di Kota Probolinggo telah lama di idamkan oleh Pemkot Probolinggo. Keinginan ini telah di masukkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPMJD) tahun 2006 - 2009 dan hingga saat ini belum terwujud sepenuhnya. Di awal tahun ini Pemkot Probolinggo kedatangan investor - PT Beejay Sarana Hiburan- untuk berniat mengembangkan dan mengonsep kawasan hutan mangrove untuk di jadikan ekowisata di Kota Probolinggo ( Radar Bromo, 16/01/2010).
Hal ini merupakan suatu peluang yang sangat menarik yang harus di wujudkan segera karena konsep ekowisata hutan mangrove sangatlah unik bukan hanya sebagai tempat hiburan saja tetapi juga sebagai tempat pengembangan lingkungan yang berbasis pada pendekatan pemeliharaan dan konservasi alam karena hutan mangrove mempunyai karaktreristik dan kekhasan tersendiri. Bahkan di kawasan Pantai Timur Surabaya (Pamurbaya) telah di kembangkan Ekowisata Mangrove Wonorejo (EWM) yang mendapatkan banyak apresiasi oleh masyarakat, bahkan Gubernur Jawa-Timur (Metropolis, 16/01/2010 ).
Jika melihat potensi hutan mangrove di Kota Probolinggo yang memiliki luas kurang-lebih 585 hektar (Herrukmi S. R, www.balitbangjatim.com) sangatlah tepat untuk di jadikan ekowisata meski kebutuhannya diawali dari 1,5 hektar saja untuk membuka ekowisata ( Radar Bromo, 16/01 2009). Dengan demikian konservasi hutan mangrove akan tetap terjaga kelestarian ekologinya dan memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat secara terus-menerus. Tujuan ekowisata tersebut dapat tercapai dengan baik jika dilakukan pengelolahan yang secara tepat.
Berdasarakan definisi bebas wikipedia (ensiklopedi bebas) ekowisata dapat diartikan salah satu kegiatan pariwisata yang berwawasan lingkungan dengan mengutamakan aspek konservasi alam, aspek pemberdayaan sosial, budaya, ekonomi masyarakat lokal serta aspek pembelajaran dan pendidikan. Dari definisi tersebut sangatlah jelas bahwa dalam mengelolahan konservasi lingkungan hutan mangrove harus selalu melibatkan aspek pemberdayaan masyarakat lokal karena merekalah yang terdepan akan menjaga dan melestarikannya sehingga terciptanya ekowisata yang berkelanjutan. Tampa melibatkan mereka konservasi mangrove dengan konsep ekowisatanya tidak akan terwujud dengan baik dan bahkan di kuatirkan akan berdanpak negatif yaitu rusaknya kawasan hutan mangrove.
Di Kota Pobolinggo laju kerusakan hutan mangrove di perkirakan sebesar empat persen per tahun (Herrukmi S. R, www.balitbangjatim.com), dan dari kajian Peneliti Balitbang Provinsi Jawa Timur oleh Herrukmi S. R, pada umumnya kerusakan hutan mangrove di Kota Probolinggo tidak berbeda jauh dengan kerusakan hutan mangrove di daerah lainnya di Indonesia. Adapun kerusakan hutan mangrove di pesisir Kota Probolinggo disebabkan antara lain karena adanya penebangan liar oleh masyarakat sekitar baik untuk kayu bakar, arang maupun dengan tujuan komersial/diperdagangkan sebagai bahan bangunan; perubahan lahan dari hutan mangrove lahan pertanian/sawah dan lainnya.
Kebiasaan dan adat istiadat masyarakat sekitar juga turut andil dalam kerusakan hutan mangrove, di antaranya yaitu menjala ikan yang menyebabkan bibit/benih mangrove tersangkut dan tercabut sewaktu jala diangkat dari air. Selain itu orang yang menjala ikan secara tidak sengaja dapat menginjak tanaman mangrove yang masih kecil. Kebiasaan lain yaitu menyundu udang dengan alat sundu yang dapat mencabut/merusak tanaman mangrove yang masih kecil. Kegiatan mencari kepiting pada siang hari dengan membangun lubang kepiting juga tidak jarang dapat merusak tanaman mangrove.
Ini makin diperparah oleh pencarian cacing laut untuk makanan ikan hias. Biasanya masyarakat pencari cacing terlebih dahulu menebang/merusak pohon mangrove. Kebiasaan para nelayan mendaratkan perahu-perahu di sekitar tanaman mangrove serta jalan masuk atau keluar yang dibuat untuk jalan perahu dapat merusak tanaman di samping budaya membuang sampah dan polutan lain secara sembarangan di wilayah pesisir yang mengakibatkan tercemarnya hutan mangrove.
Dengan melihat hal tersebut masyarakat lokal merupakan variabel penentu dari kelestarian hutan mangrove, sehingga jika Pemkot Probolinggo membuka ekowisata hutan mangrove harus melakukan upaya pengelolahan secara terpadu serta melibatkan seluruh stakeholders yang terkait, mulai dari level komunitas, masyarakat lokal, pemerintah, dunia usaha atau investor dan organisasi non pemerintah (LSM dll). Hal ini diharapkan akan terbangunnya struktur jaringan untuk menjalankan suatu kemitraan yang baik sesuai peran dan keahlian masing-masing dalam pengelolahan ekowisata hutan mangrove.
Berkaitan dengan pengelolahan ekowisata hutan mangrove secara terpadu dengan melibatkan masyarakat lokal dibutuhkan suatu strategi yang tepat agar bisa berjalan sesuai dengan tujuan ekowisata tersebut. Pengelolahan ekowisata yang berbasis masyarakat (community based ecotourism) merupakan pilihan yang tidak bisa di elakkan dalam membangun ekowisata hutan mangrove di Kota Probolinggo.
Ekowisata berbasis masyarakat merupakan ekowisata yang menitik beratkan peran aktif komunitas lokal. Hal tersebut di dasarkan kepada kenyataan bahwa masyarakat memiliki pengetahuan tentang alam, sejarah serta budaya yang menjadi potensi dan nilai jual sebagai daya tarik wisata, sehingga pelibatan masyarakat menjadi mutlak bahkan partisipasi masyarakat di artikan secara lebih luas yaitu harus dilibatkan dalam taraf perencanaan, pelaksanaan dan pemanfaatan (Mubyarto & Sartono, 1988).
Ekowisata hutan mangrove berbasis masyarakat juga dapat menciptakan kesempatan kerja bagi masyarakat setempat dan mengurangi kemiskinan, di mana ekowisata dapat meningkatkan taraf hidup dari jasa-jasa wisata untuk turis misalnya sebagai pemandu; sewa perahu, ongkos transportasi, menjual alat tangkap ikan, menjual kerajinan, dll. Ekowisata juga membawa dampak positif terhadap pelestarian lingkungan dan budaya asli setempat yang pada akhirnya diharapkan akan mampu menumbuhkan jati diri dan rasa bangga antar penduduk setempat yang tumbuh akibat peningkatan kegiatan ekowisata.
Untuk menciptakan ekowisata yang berbasis masyarakat (community-based ecotourism) perlu stimulasi agar peran masyarakat meningkatkan dalam ekowisata ini, hal ini bisa dilakukandengan pola pendekatan Participatory Rural Appraisal (PRA) yang merupakan metode pendekatan partisipatif yang menekankan pada upaya-upaya peningkatan partisipatif masyarakat lokal dalam mengkaji lingkungan sekitarnya untuk melakukan perencanaan, pelaksanaan, monitoring dan evaluasi khususnya yang terkait dengan pelestarian ekosistem hutan mangrove. Sehingga dengan metode tersebut diharapkan pelaksanaan pembangunan ekowisata hutan mangrove di Kota Probolinggo tersebut cepat diterima oleh masyarakat lokal dan segera dapat di wujudkan. Dan ini merupakan tugas bersama kita, baik pemerintah kota dan masyarakat Kota Probolinggo pada umumnya
Model mengelolahan ekowisata hutan mangrove berbasis masyarakat dengan melibatkan peran aktif masayarakat lokal bukan berarti meninggalkan peran dunia usaha atau pihak swasta. Pihak swasta juga sebagai unsur pembentuk pengelolahan ekowisata secara terpadu. Tampa pihak swasta pengelolahan ekowisata ini akan lemah, karena pihak swasta mempunyai keungulan dalam mengelola industri pariwisata secara profesional dan mempunyai managemen modern dalam mengembangkan industri kepariwisataan disamping itu pihak swasta juga memiliki modal yang memadai dalam mengonsep ekonowisata yang menarik dari mulai membangun pencitraan (branding), pemasaran (marketing), promosi hingga pengembangan (developing).
Sementara peran serta pemerintah kota dapat sebagai fasilitator, regulator dan stimulator pembangunan ekowisata yang berkelanjutkan, Dan yang tidak kalah penting membangun kesepakatan dan kerjasama pihak-pihak yang terkait dalam mengelolah ekowisata hutan mangrove atas dasar manfaat, proporsional dan keadilan, tidak ada pihak yang di rugikan dalam pengelolaan tersebut. Sedangkan pihak non pemerintah dapat ditempatkan sebagai fungsi kontrol dalam pelaksanaan ekowisata yang telah berjalan.
Dengan demikian upaya mewujud kan ekowisata hutan mangrove di Kota Probolinggo sebagai sektor pariwisata yang berbasis wisata bahari dan pantai harus kita dukung bersama. Pengelolahan ekowisata yang berbasis masyarakat sangat diperlukan dalam pelaksanaan industri pariwisata ini. Sehingga eksploitasi atas kawasan mangrove di Kota Probolinggo dapat berdampak positif bagi masyarakat sekitar dan lingkungan ekologi kawasan mangrove itu sendiri sehingga konservasi hutan mangrove sebagai Kawasan Lindung tetap terjaga secara berkelanjutan.
Dengan datangnya investor - PT Beejay Sarana Hiburan- yang akan mengembangkan hutan mangrove sebagai ekowisata di Kota Probolinggo sebagai angin segar dalam upaya mewujudkan industri pariwisata bahari. Sebelum itu terlaksana mulailah kita bertanya apakah nantinya dalam pelaksanaannya akan melibatkan masyarakat lokal ? dan apakah pengelolahannya menggunakan model pengelolahan ekowisata yang berbasis masyarakat atau sebaliknya?. Kita hanya berharap agar semuanya terwujud dan memberikan manfaat sebesar-besarnya untuk kemakmuran masyarakat lokal Kota Probolinggo.
* Pemerhati Kelautan & Perikanan Probolinggo.
Alumnus Fakultas Teknologi Kelautan ITS

Sumber: biru-lautku.blogspot.com

Selasa, 19 Januari 2010

Artikel Foto dari foto.soup

Pemkot Lepas Monyet di Hutan Mangrove

Agar populasi monyet jenis laut atau monyet berekor panjang tidak punah, Kecamatan Rungkut melepas monyet ekor panjang ke konservasi wisata hutan mangrove di Wonorejo, Selasa (19/1). Harapannya dapat menambah populasi dan meningkatkan eko wisata.


Sumber: foto.soup

Artikel Pelepasan Kera dari Suara Surabaya

19 Januari 2010, 17:10:56| Laporan J. Totok Sumarno

Tambah Satwa, Dua Kera Dilepas di Mangrove Wonorejo

suarasurabaya.net| Dalam rangka terus menghidupkan dan mengembangkan ekowisata hutan mangrove Wonorejo, Selasa (19/01) Kecamatan Rungkut, melepaskan dua ekor kera dihabitat dekat dengan muara laut kawasan pantai timur Surabaya.

Disampaikan IRVAN WIDIYANTO Camat Rungkut, pelepasan dua kera tersebut diharapkan nantinya dapat menambah jumlah sekaligus memperbanyak jumlah kera dihabitat mangrove Wonorejo.

“Tujuannya memang itu. Kita harapkan dengan pelepasan dua ekor kera itu nanti akan beranakpinak dan menjadikan jumlah kera dihabitat mangrove menjadi lebih banyak dan memperindah ekowisata disana,” kata IRVAN WIDIYANTO saat ditemui suarasurabaya.net, Selasa (19/01) dikantornya.

Ditambahkan IRVAN, sampai saat ini, dari catatan yang berhasil dihimpun, terjadi peningkatan kunjungan dilokasi ekowisata mangrove Wonorejo, terutama disaat musim liburan sekolah dan hari MInggu.

Kedepan, ekowisata mangrove Wonorejo Kecamatan Rungkut, ditambahkan IRVAN WIDIYANTO Camat Rugkut bisa menjadi sarana belajar sekaligus wisata alternativ bagi masyarakat. “Tidak hanya jadi tujuan wisata alternative, tetapi sekaligus untuk belajar tentang mangrove. Ini juga jadi harapan kita,” pungkas IRVAN WIDIYANTO.

Pelepasan dua ekor kera Selasa (19/01) dilokasi mangrove Wonorejo persisnya dilakukan di dekat lokasi pos pantau mangrove. Sampai saat ini, diperkirakan sekurangnya 20 ekor kera menghuni kawasan mangrove Wonorejo.(tok)

Teks foto:
-Sebuah kawasan mangrove.
Foto: Dok. suarasurabaya.net

Sabtu, 16 Januari 2010

Artikel Arief Santosa di Jawa Pos

Awal tahun 2010, kawasan pamurbaya merupakan spot yang paling banyak disorot media. Berikut ini adalah tulisan dari Wartawan Jawa Pos, Arief santosa di Harian Jawa Pos edisi hari Sabtu, 16 Januari 2010.

Menggarap Wisata Wonorejo


Surabaya punya satu lagi objek wisata baru: Ekowisata Mangrove Wonorejo (EMW). Setelah tiga tahun beroperasi, kemarin (15/1) kawasan wisata berobjek hutan bakau itu ''diresmikan''. EMW diharapkan menjadi tempat rekreasi alternatif yang memperkaya khazanah pariwisata Surabaya.

Situs wisata itu terdapat di pesisir timur Surabaya. Secara geografis, letaknya di wilayah Kelurahan Wonorejo, Kecamatan Rungkut. Dari pusat kota, pengunjung hanya memerlukan waktu 45 menit hingga sejam (naik motor atau mobil) untuk sampai di tujuan.

Memang, belum semua akses menuju lokasi beraspal. Ada sekitar 2,5 km jalan yang masih dibiarkan seperti aslinya alias jalan tanah. Meski begitu, tetap bisa dilalui kendaraan.

Yang jelas, begitu tiba di lokasi, pengunjung akan langsung mendapat suasana berbeda. Seperti bukan di Surabaya. Hawanya terasa segar dengan angin pesisir yang bertiup semilir. Tak ada keriuhan. Tak ada polusi udara dari asap pabrik maupun knalpot kendaraan. Benar-benar alami.

Wisata itu menawarkan pemandangan alam yang menyegarkan mata dan pikiran. Lebih dari lima hektare hutan bakau (mangrove) membentang di tepian Selat Madura tersebut. Kawasannya meliputi dua kanal sungai besar Surabaya, yakni Sungai Wonokromo dan Sungai Kebon Agung. Juga ada Boezem Wonorejo sebagai dermaga awal pemberangkatan perahu wisata.

Ya, wisata itu dinikmati menggunakan perahu motor berkapasitas 40 orang. Pengelola EMW, Forum Komunikasi Polisi Masyarakat (FKPM) Wonorejo, mempunyai satu unit perahu yang akan mengangkut pengunjung menyisiri hutan bakau. Saat itulah pengunjung merasakan sensasi wisata alternatif ini.

Di sepanjang rute (ada dua rute yang ditawarkan: panjang dan pendek), pengunjung akan disuguhi pemandangan menakjubkan. Ada tanaman bakau yang akar-akarnya mencuat eksotis. Ada aneka burung yang beterbangan kian-kemari. Ada berbagai binatang air yang menyambut di pinggir-pinggir pantai. Pokoknya asyik.

Dari pos pantau satu ke pos pantau dua, pengunjung juga bisa melaluinya dengan berjalan kaki. Pengelola telah membuatkan ''jalan'' dari anyaman bambu yang berkelok-kelok di tengah ''hutan'' itu. Ada juga tambak ikan bandeng, udang, dan kepiting yang bisa dipancing atau dijaring (tentu tidak gratis).

Di pos dua, pengunjung mendapat jamuan makan siang dengan menu khas EMW: bandeng sampit dan bandeng lempung dengan sambal terasi yang nikmatnya bukan main ketika disantap dengan nasi yang masih kemebul.

***

Memang masih banyak catatan yang perlu dibenahi pengelola untuk ''menyempurnakan'' fasilitas EMW. Mulai jalan akses yang masih berupa tanah (makadam) dan sempit, tebaran sampah yang ''menghiasi'' di sana-sini, dan belum adanya sarana-prasarana tempat wisata lainnya. Misalnya, stan-stan penjual suvenir dan makanan. Juga, papan penunjuk lokasi yang minim, sehingga sering membingungkan orang yang bermaksud menuju objek wisata alam itu. Intinya, EMW masih kurang ''ramai'' sebagai tempat wisata.

Tapi, bisa jadi, setelah ''diresmikan'' kemarin, EMW akan menjadi jujukan wisata masyarakat Surabaya dan sekitarnya. Nah, kalau sudah begitu, pasti pengelolanya akan kewalahan menghadapi luberan pengunjung. Taruhlah, misalnya, yang datang seratus orang hari itu. Mau tak mau, lebih dari separo pengunjung harus menunggu giliran perahu yang akan mengangkut mereka berwisata.

Sebab, pengelola baru memiliki satu unit perahu dengan kapasitas 40 orang. Padahal, untuk satu trip, dibutuhkan waktu 2-4 jam perjalanan. Akankah yang 60 orang disuruh menunggu selama itu?

Belum lagi pada hari-hari tertentu, misalnya libur sekolah atau Lebaran. Pasti pengunjung ''membeludak''. Karena itu, pengelola tempat wisata EMW harus bersiap-siap menerima banyaknya pengunjung. Selain harus menambah personel yang bertugas di titik-titik tertentu, pengelola mesti menyiapkan sarana-prasarana yang memadai, terutama menambah perahu agar mampu mengakomodasi luberan pengunjung.

Nah, sudah selayaknya Pemkot Surabaya cq dinas pariwisata kota memberi perhatian serius soal potensi wisata barunya itu. Sebab, EMW cukup menjanjikan dan menarik bagi para pencinta wisata alam yang mungkin sudah bosan dengan tempat-tempat wisata yang ada. Apalagi bagi turis manca yang gemar mengunjungi objek-objek wisata yang masih alami, EMW sangat cocok jadi tujuan wisata mereka.

Menurut survei Lembaga Kutilang Surabaya, di kawasan EWM terdapat 84 burung resident (menetap), 44 jenis burung migrant (pendatang), dan 12 jenis burung yang dilindungi. Yang paling menarik adalah banyaknya burung migrant dari berbagai negara yang mampir sejenak di EWM, silih berganti. Karena itu, di tempat tersebut sering ada turis asing yang secara khusus meneliti atau mengambil gambar burung-burung cantik yang hinggap di pohon-pohon mangrove di situ.

Kini tinggal menunggu turun tangan pemkot dan stakeholder di bidang kepariwisataan lain di kota ini untuk mengoptimalkan potensi wisata yang satu ini. Surabaya Tourism Board, Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI), asosiasi travel agen (biro perjalanan), dan pengelola wisata EWM harus bahu-membahu ngopeni ''yang kecil'' ini. Promosi, penyiapan infrastruktur, pemasaran, hingga optimalisasi pelayanannya perlu digarap bersama. Sebab, kalau dibiarkan apa adanya, hasil yang diperoleh juga apa adanya.

Toh, di EWM, pemkot sudah tidak perlu bersusah payah menyulap kawasan di situ menjadi kawasan wisata. Pemkot tinggal memoles beberapa bagiannya agar kawasan itu pantas disebut objek wisata. (*)

Oleh: Arief Santosa, Wartawan Jawa Pos
Artikel ini diambil dari sini

Jumat, 15 Januari 2010

Artikel dari Surabaya.go.id

15/01/2010 16:20:10

Pemkot Bersih-Bersih Sungai dan Tanam Mangrove di Pamurbaya

Dinkominfo – Sebagai upaya peningkatan ekowisata dikawasan Pantai Timur Surabaya (Pamurbaya), Pemerintah Kota Surabaya melalui Dinas Pertanian mengadakan bersih-bersih sungai dan penanaman mangrove, Jum’at (15/1) di Boozem Wonorejo Kecamatan Rungkut.

Kegiatan dibagi menjadi tiga yakni upacara, bersih-bersih pantai dan penanaman mangrove. Bersih-bersih pantai dilakukan disepanjang muara sungai Jagir Wonorejo sedangkan penanaman mangrove dilakukan di sisi kanan sungai Jagir Wonorejo.

Dalam jumpa pers yang dilakukan Kamis (14/1), Kasi. Kehutanan Dinas Pertanian Kota Surabaya, Suzi Irawati Fauziah mengatakan bahwa saat ini sampah dimuara sungai Jagir Wonorejo mulai menumpuk dan semakin lama semakin meningkat.

Pada kegiatan yang menanam 5000 pohon ini, Walikota Surabaya Bambang DH berharap Pamurbaya dapat menjadi kawasan hutan lindung, dan diarahkan menjadi pusat edukasi, wisata serta riset flora dan fauna.

Pada kesempatan tersebut, selain Walikota Surabaya Bambang DH dan Wakil Walikota Surabaya Arif Afandi juga dihadiri Gubernur Jawa Timur Soekarwo serta Ketua DPRD Kota Surabaya Wisnu Wardhana. (*)



Sumber: Surabaya.go.id

Selasa, 12 Januari 2010

Kisah Fathoni sang Pembalak

Fathoni, Petani, mantan pembalak Mangrove, dan kini merupakan anggota aktif FKPM Ne, dikupas profilnya dalam Harian Jawa Pos, edisi Senin, 11 januari 2010. Harian terbesar di Jawa Timur tersebut menggambarkan Fathoni sebagai petani yang Merelakan Lahan Garapan untuk Wisata Mangrove Wonorejo. Berikut Tulisan lengkapnya.

Dulu Membalak Seenaknya, Sekarang Ikut Membudidayakan



Keberadaan Ekowisata Mang­rove Wonorejo tak bisa lepas dari pengorbanan orang-orang peduli lingkungan di kawasan itu. Salah satunya, pengorbanan Fathoni, petani yang merelakan 3 hektare lahan garapannya untuk lokasi wisata bahari tersebut.

---

LELAKI 52 tahun itu tampak bersemangat setiap kali diajak berbicara soal wisata hutan mangrove (bakau) Wonorejo. Dia begitu menguasai dan menjiwai. ''Sejak 1994 saya menanam mangrove. Jadi, ya sudah nglothok,'' ungkap Fathoni, lelaki yang rambutnya mulai memutih itu.

Keahliannya menanam mangrove merupakan bakat alam. Baru belakangan Fathoni mendapat banyak wawasan dari dinas pertanian yang memberi pelatihan. Dia memang memiliki tanah garapan di pesisir pantai timur Surabaya itu. Surat bukti objek pajak yang menyebut namanya sebagai pembayar pajak untuk tanah tersebut menjadi alasan pengakuannya. Tapi, bukan tanah milik.

Semula ada sekitar 5 hektare lahan yang digarap bapak tiga anak itu. Lahan tersebut dikelilingi hutan mangrove. Dia membuat berpetak-petak tambak di sela-sela hutan. Di samping menambak, Fathoni dulu kerap menebangi tanaman mangrove itu untuk dijual.

Dalam perkembangannya, lahan tersebut sedikit demi sedikit terkena abrasi air laut sehingga sekitar 2 hektare tanahnya terkikis. Beberapa petak tambaknya pun rusak. Hutan mangrove-nya juga mulai ''gundul''.

''Sebenarnya saya juga menanam mangrove untuk peremajaan. Tapi, pertumbuhannya kalah cepat daripada kerusakannya,'' ujar petani yang rumahnya tak jauh dari kawasan wisata mangrove itu.

Pada 2008 aktivitas penebangan liar mangrove yang dilakukan Fathoni terendus polisi. Dia pun dibawa ke Mapolsek Rungkut untuk dimintai keterangan. Awalnya dia heran, mengapa dirinya ditangkap karena memanen tanaman di lahan sendiri. Petugas lalu menjelaskan bahwa tanaman mangrove termasuk tumbuhan yang dilindungi. Dengan demikian, pembalakan dengan alasan apa pun di tepi laut Wonorejo tidak diperbolehkan.

Fathoni tersadar, penebangan mangrove yang dilakukannya salah dan merusak lingkungan. ''Sejak itulah saya merelakan 3 hektare lahan garapan saya dipakai menjadi bagian dari proyek pelestarian lingkungan di Wonorejo ini,'' tuturnya.

Tidak hanya itu. Fathoni juga berjanji mengganti setiap 200 pohon mangrove yang pernah ditebang dengan seribu pohon baru. Janji itu kini sudah terbukti. Di lahan yang pernah dibabatnya dulu, kini tampak ribuan pohon mangrove baru. Tangannya ternyata cukup ''sakti'' untuk menanam tanaman bakau tersebut. Pasalnya, untuk menanam mangrove, dibutuhkan ketelatenan dan kesabaran yang luar biasa.

''Menanam mangrove itu ibarat membina rumah tangga, harus penuh perhatian dan kasih sayang," ujarnya lantas tersenyum.

Selain lahan mangrove, Fathoni mengikhlaskan sisa-sisa tambaknya untuk dijadikan fasilitas Ekowisata Mangrove Wonorejo. Di tambak itu, para pengunjung bisa memancing atau menjala aneka ikan. Ada bandeng, udang, kepiting, dan jenis ikan lain.

Dia berharap, Ekowisata Mangrove Wonorejo akan menjadi tempat wisata alternatif Surabaya yang menarik perhatian masyarakat. Di tempat itu, menurut rencana, akan didirikan stan-stan pusat jajanan dan kerajinan khas Wonorejo. ''Dengan begitu, warga sekitar sini bisa berwirausaha,'' tandasnya. (rio/upi/alb/ari)

Sumber: JawaPOS edisi Senin 11 januari 2010

Senin, 11 Januari 2010

Artikel Dari Jawa Pos Edisi Januari 2010

Ekowisata Mangrove Wonorejo, Wisata Alternatif Surabaya


Wisata alam itu kini pengelolaannya dipegang Lembaga Ekowisata Wonorejo, Forum Komunikasi Polisi Masyarakat (FKPM) Kecamatan Rungkut. Di lokasi itu, selain bisa menikmati segarnya hawa pesisir, pengunjung bisa berkeliling menyusuri pantai berhutan bakau tersebut.
Pengelola telah menyiapkan sebuah perahu motor berkapasitas maksimal 40 orang untuk menikmati keindahan lokasi itu. Untuk pengamanan, pengelola juga menyediakan pelampung dan fasilitas wisata lainnya. ''Harga sewa perahunya murah kok. Cuma Rp 350 ribu. Padahal bisa dinaiki 40 orang,'' ujar Irvan Widyanto, camat Rungkut, yang kemarin mendampingi tim Jawa Pos menyusuri hutan bakau di Wonorejo.
Perahu akan bergerak dari dermaga Sungai Wonokromo menuju Selat Madura. Sepanjang perjalanan itu pengunjung menikmati rimbunnya hutan mangrove dan vegetasinya. Di kanan dan kiri sisi sungai terlihat akar-akar bakau yang mencuat di sana-sini.
Dari dermaga, perahu menuju pos pantau pertama yang letaknya berdekatan dengan pos pantau Gunung Anyar yang terletak di atas Sungai Kebon Agung. ''Waktu tempuhnya sekitar 10 menit,'' tutur Irvan.
Selama perjalanan menuju pos pantau mangrove itu, pengunjung akan disuguhi pemandangan nan indah dengan burung-burung yang beterbangan dan hinggap di ranting-ranting pohon mangrove. ''Wah, Surabaya ternyata punya pemandangan alam yang begitu indah, ya,'' kata Omar Faruq, salah seorang pengunjung.
Perahu yang ditumpangi Jawa Pos kemarin berisikan sekitar 15 orang. Selain keluarga Omar, juga ada keluarga Indra Budi Hermawan yang tinggal di kompleks Wiguna. Pengunjung kebanyakan masih asing, sekaligus terperangah dengan keindahan Ekowisata mangrove Wonorejo. Dari pos pantau satu ke pos pantau dua, pengunjung bisa berjalan kaki menyisiri jalan setapak dari bambu yang membelah hutan mangrove. Jaraknya tak lebih dari 30 meter. Di pos pantau dua, pemandangan lebih bagus lagi. Pengunjung bisa menikmati view Selat Madura dari gazebo di situ.
Di pos itu pula pengelola menyiapkan sajian makanan. Ada bandeng sapit dan bandeng lempung khas Wonorejo. Rasanya pedas campur asam. ''Ini, khas makanan pesisir,'' tutur Irvan.
Pagi hari merupakan waktu yang tepat untuk berkunjung ke Ekowisata Mangrove Wonorejo. Udara yang sejuk serta aktivitas penghuni habitat di situ bisa ditemui, termasuk para nelayan yang sedang melaut. ''Kalau pagi, biasanya airnya surut,'' tutur Djoko Suwondo, ketua Lembaga EMW.
Menurut dia, saat pagi itulah banyak burung yang hinggap di ranting-ranting pohon mangrove. Burung-burung itu kebanyakan merupakan burung migrasi dari berbagai dunia seperti Tiongkok, Finlandia, dan Australia. ''Banyak turis asing datang untuk melihat burung-burung di sini,'' tuturnya.
Menurut penelitian Lembaga Kutilang Surabaya, ada 84 jenis burung resident (menetap), 44 jenis burung migran (pendatang), dan 12 jenis burung yang dilindungi yang mampir di Ekowisata Mangrove Wonorejo. ''Yang paling banyak kunthul putih,'' tuturnya.
Sumber : JawaPos