Minggu, 07 Februari 2010

Arsip Beritajatim.com

Cegah Perampokan
Polisi Gelar Cerdas Cermat Antar Pembantu

Minggu, 07 Februari 2010 22:00:09 WIB
Reporter : Fakhrurrozi
Surabaya (beritajatim.com)
– Banyak jalan menuju Roma. Pepatah tersebut pantas disematkan kepada jajaran Polres Surabaya Timur. Polres yang dipimpin AKBP Samudi ini menggunakan berbagai cara untuk mengantisipasi tindak kriminalitas.

Tak hanya melalui penyuluhan dan sosialisasi. Polres Surabaya Timur juga menggadakan cerdas cermat antar pembantu rumah tangga dan satpam perumahan. Tujuannya untuk mencegah terjadinya pencurian dan perampokan pada rumah-rumah mewah.

"Selama ini kita telah melakukan penyuluhan kepada pemilik rumah, pembantu dan satpam. Tapi kenyataannya masih saja terjadi pembobolan dan perampokan rumah di kawasan Rungkut. Karena itulah, kali ini kita mengadakan cerdas cermat antar pembantu," ujar Samudi mendampingi Kapolwiltabes Surabaya Kombespol Ike Edwin di Taman Gazebo, Nirwana Eksekutif Blok CC, Surabaya, Minggu (7/2/2010).

Dalam kegiatan cerdas cermat yang diadakan bekerjasama dengan Forum Komunikasi Masyarakat dan Polisi (FKPM) Nirwana Eksekutif ini, diikuti pembantu dan satpam di lingkungan RW VI Wonorejo.

Cerdas cermat ini diikuti 8 kelompok dengan masing-masing kelompok terdiri 3 orang, dua pembantu dan satu satpam.

"Materi pertanyaan dalam cerdas cermat ini seputar kamtibmas. Kita ingin tahu bagaimana perilaku seorang pembantu bila kedatangan tamu yang tak dikenalnya dan lainnya," kata Samudi.

Salah satu pertanyaan adalah bagaimana bila pembantu kedatangan seorang pria yang tak dikenal. “Bila ada tamu yang tak dikenal, saya akan Tanya cari siapa dan keperluannya apa. Tapi jangan dekat-dekat orangnya, takutnya kena gendam,” kata salah seorang peserta yang disambut gerr oleh masyarakat sekitar yang melihat cerdas cermat ini.

Selain materi pertanyaan, pembantu dan satpam ini dites cara memadamkan kebakaran. Di akhir acara, Samudi memberikan nomer HP-nya kepada pembantu dan satpam agar bila mencurigai seseorang langsung menelpon.[roz/ted]



Sumber: Beritajatim.com

Tulisan dari Blog budiono

Tulisan dibawah ini diambil dari blog, dan menceritakan kegiatan penyulaman mangrove, sebuah kegiatan yang masih sangat jarang untuk dilakukan, karena tingkat kesulitan dan ketelitian yang diperlukan para pelakunya.

Menyulam Mangrove Wonorejo

02.07.2010 ·

mangrove surabayaHari ini saya kembali berkunjung ke Bozem Wonorejo Surabaya. Sebelumnya sudah dua kali saya ke sana untuk tujuan yang sama: menanam mangrove di Pantai Timur Surabaya. Yang pertama pada hari Sabtu 26 Juli 2008, yang kedua pada hari Sabtu 18 Oktober 2008.

Waktu itu untuk menuju ke lokasi penanaman mangrove harus menggunakan perahu motor karena jaraknya cukup jauh dari bozem. Itu adalah pengalaman pertama saya naik perahu motor. Asyik juga!

Lokasi yang kami tanami mangrove 2 tahun lalu itu kini telah disulap menjadi kawasan EKOWISATA Mangrove. Warga yang ingin melihat dari dekat bisa naik perahu yang disediakan oleh pengelola kawasan dengan tarif 10 ribu per orang.

***

Berbeda dengan kunjungan pertama dan kedua, kali ini saya datang bersama kawan-kawan Konsumen Hijau atas undangan dari Wawan Some. Kami bertemu dengan Pak Sony ketua Kelompok Tani Mangrove Wonorejo. Kami bergabung bersama para anggota Kelompok Tani tersebut untuk menyulam mangrove di sekitar Bozem.

Menyulam adalah mengganti tanaman yang mati dengan bibit tanaman baru. Bibit-bibit tersebut diambil dari pucuk ranting mangrove yang akan berbuah. Menurut Pak Sony bibit dari pucuk mangrove tersebut memiliki daya tahan yang lebih bagus dibandingkan dengan bibit dari persemaian.

Mangrove yang kami sulam tersebut usianya baru 4 bulan. Tingginya belum ada 1 meter. Ada sekitar 40% tanaman yang mati dan harus kami ganti dengan tanaman baru. Banyaknya tanaman yang mati tersebut salah satunya disebabkan karena cara tanam yang salah: polybag tidak dilepas, sehingga akar mangrove tidak bisa menembus ke dalam tanah.

Untuk menuju ke lokasi penyulaman kami lakukan dengan penuh perjuangan. Kondisi medan yang berlumpur dalam membuat beberapa peserta tertancap kakinya hingga selutut. Sepatu boot yang kami pakai tidak mampu melawan lumpur dan akhirnya banyak kawan yang melepasnya.

Setelah lelah menyulam mangrove kemudian kami makan nasi tumpeng. Menunya: nasi tumpeng, urap-urap kacang panjang dan kecambah kacang ijo, tempe bacem, telor bulat, mie, tahu isi, ayam panggang, dan tidak lupa kare kepiting hasil tambak para petani. Makan bersama di area terbuka di bawah terik matahari dengan menu sederhana tersebut terasa sungguh sangat nikmat!

***

Keberadaan hutan mangrove di Pantai Timur Surabaya tersebut sangat vital untuk mencegah terjadinya abrasi. Selain itu di sana terdapat ratusan spesies burung khas dan berbahai hewan lain sehingga juga berfungsi sebagai kawasan konservasi fauna.

Jika bukan kita sendiri, siapa lagi yang akan menjaga kelestarian lingkungan Surabaya?

Tags:

26 Responses to “Menyulam Mangrove Wonorejo”

  1. tadi pas ke muara banyak sampah plastik yang bergantungan di pohon2 mangrove, belum lagi di aliran anak sungainya. Sempat juga tadi lihat beberapa spesies burung langka, dan yang terakhir merendam pakaian, sepatu, sweater, kaos karena terkena lumpur hahahhahahahhaha

  2. semoga terus lestari

  3. semangat…….kerja yang mulia tuh….

  4. [...] oleh Kelompok Tani Mangrove Wonorejo. Pada hari-hari tertentu KTMW mengadakan acara tanam dan sulam mangrove. Jika ingin mengikuti kegiatan tersebut silakan hubungi Pak Sony ketua [...]

  5. icha imut says:

    Kereennn bgt
    Setujuu bgt
    Aiok kembangkan lebi luas lagiii…
    Di sidoarjo misalnyah

  6. lestari alamku…lestari alam kita.. lanjutkan! ;)

  7. wah kapan lagi ke sana ya…

  8. Serunya mas,,, aku cuma ngucapin semangat aja untuk melestarikan alam sekitar..

  9. salam hangat broo
    arek suroboyo juga

  10. wahh… ada kare kepiting ya.. mestinya bisa bikin warung disana ..
    akhir bulan ini aku mo ke mangrove, mo cobain bandeng bakarnya :P

  11. wah ternyata masih ada yang peduli dgan kelestarian alam kita yah.., saya dukung mas…

  12. pantesan awakmu tambah nggiyanteng, lawong pahalamu huwakeh sak gunung… hehehhe…

  13. komen pujianku kok ilang, hiks…

  14. kapan-kapan lek aku nang suroboyo jak’en rono yo kang ;)

  15. Wah, dah lama ga ikut tanam mangrove….

    Pengen rasanya kesana lagi… :D

  16. Lestari alamku. . . tersenyum duniaku

  17. wah pingin juga berpartisipasi sebenarnya pingin ikutan hik hikzzz

    semangattt…

    berkunjung n ditunggu kunjungan baliknya makasih

  18. semoga keberadaan magrove mampu menahan abrasi laut

  19. Wonorejo Terpadu memang Mantav!!! :) )

  20. karo ndoli adoh ra wi?hheheh

  21. wah, mencegah global warming nih… agar tidak terjadi lebih cepat, dan agar pantai tidak tergerus habis oleh ombak… sip…salut sama wisata kali ini…

  22. kondisi lingkungan alam di negeri kita yang rawan bencana memang perlu diantisipasi dengan membudayakan hutan mangrove, mas dion. sayangnya, kesadaran kolektif semacam itu belum tumbuh. yang terjadi justru makin merampas lahan2 jalur hijau yang seharusnya tdk dijadikan sbg lahan pembangunan berorientasi bisnis.

  23. Saya baru sekali mas! mudah2an ada waktu lagi uutk kembali ke mangrove pantai timur surabaya

  24. hai salam kenal ya, mampir dong ke blogku

  25. saya sudah kesana tapi kok, masih ada beberapa sampah
    semoga ini bukan menjadi salah satu proyek pemkot yang gagal, dan bisa membantu untuk melestarikan lingkungan d sby

  26. Aku ke sana malah wisata kuliner, nyari jenang bogem, sirup bogem, kerupuk rajungan, bandeng bakar… hehehehe.

Minggu, 31 Januari 2010

Tawuran Desa Pesisir Jadi Pelajaran


Minggu, 31 Januari 2010 10:47:12 - oleh : admin


Ketegangan akibat tawuran masal warga desa Desa Semare dan Kalirejo, Kecamatan Kraton, Kabupaten Pasuruan sudah mereda setelah ada islah. Namun polisi kini mengambil sejumlah langkah antisipasi untuk mencegah konflik serupa.

Salah satu caranya adalah mengumpulkan seluruh warga desa yang tinggal di pesisir dan bekerja sebagai nelayan. Mereka diajak untuk berbaur dan menjauhkan potensi konflik di kalangan masyarakat pesisir.

Di kantor Kecamatan Kraton, Jumat (29/1) lalu Polres Pasuruan mengumpulkan warga dari empat desa. Yakni warga Desa Kalirejo, Semare, Gerongan dan Pulokerto. Keempat desa ini ada di pesisir laut di Kecamatan Kraton. Keempat desa ini juga berpotensi memiliki konflik. Sebab, hampir mayoritas penduduk di empat desa ini mata pencaharian penduduknya adalah nelayan.

Tidak bisa dimungkiri, karena dekat dengan pesisir, potensi konflik yang terjadi antarnelayan sangat rawan terjadi. "Contohnya seperti yang terjadi pada masyarakat Desa Semare dan Kalirejo. Hanya gara-gara perahu bergesekan saat parkir di sungai, konflik terjadi. Efeknya konflik berujung pada aksi tawuran warga," terang Kabag Bina Mitra Kompol Budi Suryoso kemarin (30/1).

Melihat fenomena itu, kata Agus, polisi tidak ingin kecolongan. "Untuk itulah Jumat lalu kami mengajak seluruh warga di empat desa di Kraton, untuk saling berdialog. Di samping itu, kami juga memberi pelatihan kepada masyarakat dengan mengoptimalkan kembali FKPM (Forum Kemitraan Polisi Masyarakat)," tambah Agus.

Bersama Bina Mitra, Polres Pasuruan juga menurunkan anggota dari bagian Kerma (Kerja Sama Masyarakat). Selain itu, Bakesbang Linmas dan Polairud juga turut hadir untuk memberi penjelasan pelatihan FKPM.

"Selain warga dari empat desa, perangkat dan tokoh agama di empat desa tersebut juga kami undang. Tujuannya untuk memberikan penjelasan kepada masyarakat tentang bagaimana upaya jika menghadapi konflik," tambah AKP Suyitno, Kasubag Kerma Polres Pasuruan.

Untuk menghadapi konflik yang terjadi, kata Suyitno, masyarakat lebih dulu dikenalkan untuk mengidentifikasi konflik. "Suatu misal, kalau terjadi permasalahan di masyarakat, kami meminta agar masyarakat tidak terpancing emosinya. Masyarakat harus lebih dulu menilai sebenarnya permasalahan apa yang terjadi," ujarnya.

Jika sudah mengenali permasalahan yang ada, masyarakat diminta untuk mencari solusinya. "Kami meminta masyarakat agar jangan memperkeruh suasana. Jika tidak, masalah seperti yang menimpa masyarakat di Semare dan Kalirejo, akan terjadi," terang Suyitno.

Intinya, masyarakat diminta untuk melihat lebih dalam permasalahan yang terjadi. "Apabila terjadi konflik, masyarakat diminta untuk menghubungi aparat. Nah, di sinilah fungsi masyarakat untuk mengatasi masalah. Untuk itulah FKPM ada. Masyarakat yang tahu bahwa masalah bisa diatasi, akan segera mengambil tindakan," kata Suyitno.

Kapolres AKBP Achmad Yani yang hadir dalam pelatihan tersebut juga memberi penjelasan bagaimana caranya menjauhi potensi konflik. "Paling tidak, masyarakat menyadari tentang hal-hal yang menyebabkan adanya konflik pada nelayan sendiri. Misalnya, menjauhi pemakaian trowl (jaring pukat harimau) atau menjauhi pemakaian bahan peledak saat mencari ikan," papar Kapolres yang juga sempat memberikan jaket FKPM secara simbolis kepada masyarakat.(jawapos.com)

Senin, 25 Januari 2010

Catatan dari Blog silvanarw.blogspot.com

Boezem Wonorejo

Tergelitik oleh berita adanya wisata alam baru di Surabaya, dan keinginan survey untuk rencana sebuah kegiatan pada bulan Februari mendatang, aku mengajak seorang temanku untuk hunting tempat yg bertajuk "Boezem Wonorejo".
Info yg ku dapat dari internet dan koran rupanya sangat kurang, terbukti, kami nyasar sampai di daerah Pandugo belakang, dekat tambak-tambak. Bertanya kepada seorang Bapak di daerah itu pun percuma, beliau bahkan asing mendengar nama tersebut. Alhasil, kami balik kucing ke arah kebun bibit wonorejo. Untunglah sebelum sampai kebun bibit, ketika aku bertanya kepada seorang ibu penjual sayur, beliau tahu nama itu dan menunjukkan jalannya. "Gang depan belok kanan, kiri, kanan....". Aku sudah pusing duluan. "Pokok kantor kelurahan depan belok kanan, lalu sampai DAM (nama lain untuk bendungan kecil) belok kiri, terus tanya pangkalan taxi Orenz", jelasnya mempermudah aku untuk mengingat. Ohh, terima kasih, ibu..
Benar yg dikatakannya. Tepat gang di samping kantor kelurahan Wonorejo, kami masuk, mengikuti jalan-jalan kampung sampai bertemu sebuah DAm kecil, berbelok kiri sedikit melalui jembatan di atas DAM, lalu pada pertigaan pertama belok kanan, lurussss....sampai di kanan jalan kami melihat tulisan ORENZ besar di atas sebuah papan spotlight kuning yg tentu tak kalah besar. Di depannya, sebuah rakit tertambat di pinggir sungai, membawa penduduk menyeberang dari ruas jalan ini ke sisi lain sungai. "Nambang Wonorejo-Genjeran" demikian tulisan yg tertera pada papan tripleks di atas pangkalan rakit itu.
Ternyata jalan masih jauh, dari pangkalan taxi ini masih harus lurussss...sampai jalan yg hampir 'buntu' dan di sisi kanan nampak papan besar bertulis "BOEZOM WONOREJO". OMG....dari sekian jauh perjalanan, hanya ini satu-satunya papan petunjuk yg ada, ckckck...
Di dalam kawasan Boezem ini, ada semacam mesin pembangkit yg cukup banyak dan besar, lalu di kanan dan kirinya penuh dengan petak-petak semacam tambak. Tanah yg disediakan untuk jalur kendaraan lewat tak lebar, menurutku hanya cuku untuk 1,5 badan mobil saja (bagaimana kalau ada mobil dari 2 arah, ya?) dan masih berupa tanah tak beraspal, beberapa ruas becek sisa hujan. Jauh juga jalan tanah yg harus dilalui sebelum akhirnya kami sampai di tempat parkir, di depan 2 buah bangunan kuning yg menghadap tepian sungai deras dengan sebuah dermaga kecil. Dari dermaga ini, orang dapat melanjutkan ke tempat mangrove yg sesungguhnya dengan membayar 20.000/ org dengan menggunakan perahu kecil dan dapat berwisata di hutan bakau selama 1/2 jam.
Menurut cerita bapak penjaga dermaga, di hutan mangrove ada gazebo-gazebo dan jalan setapak di antara hutan tersebut. Waktu 1/2 jam yg disediakan tentu tak cukup bagi wisatawan yg ingin berkeliling melihat hutan mangrove yg sedang dalam proses untuk menjadi hutan lindung ini.
Untuk rombongan, pihak pengelola Boezem menyediakan paket B dengan minimal 20 orang, 55 000/org, fasilitas ialah makan siang dari pihak pengelola saat berwisata ke hutan mangrove. Paket A adlah layanan serupa, namun dengan tujuan ke hitan lindung di daerah kecamatan Gunung Anyar, namun paket ini belum dapat direalisasikan karena debit air yg kurang untuk dilalui perahu pada jalur ini. Pendaftaran untuk rombongan dapat langsung menghubungi sekretariat di kantor kelurahan Wonorejo.
Hal yg perlu diperbaiki adalah:

1. penambahan jumlah papan penunjuk lokasi
2. perbaikan jalan ke arah parkir Boezem, di aspal
3. pengelolaaan dermaga supaya lbh cantik =P



posted by silva at 16:23
Label: Boezem, hutan, mangrove, surabaya, wisata, Wonorejo
1 comments:

silva mengatakan...

target selanjutnya: Palm Beach, Pakuwon City --> mangrove forest jg..hehe..

Sumber: silvanarw.blogspot.com

Sabtu, 23 Januari 2010

Artikel pelepasan Kera dari Suara Surabaya

20 Kera Laut Dilepas di Hutan Mangrove


Sabtu, 23 Januari 2010 | 12:57 WIB
Seekor kera ''membantu'' petugas melepas 20 ekor kera lain di kawasan hutan mangrove Wonorejo, Surabaya, Sabtu (23/1)

Surabaya - Kawasan hutan mangrove Wonorejo dan Gununganyar tampak meriah, Sabtu (23/1). Jelang siang, 20 ekor kera laut dilepas Walikota Surabaya Bambang D.H. di kawasan itu.

Sebagaimana penghuni baru lainnya, kera-kera itu juga tampak belum bisa beradaptasi dengan lingkungan mangrove yang berair. Mereka tidak langsung menuju tengah hutan, namun lebih asyik berkeliaran di sekitar lokasi pelepasan.

“Maklum, kera-kera itu belum terbiasa dengan lingkungan hutan mangrove Wonorejo dan Gununganyar,” ungkap Camat Rungkut, Irvan Widiyanto.

Pelepasan kera sendiri dibagi dua. Sebanyak 12 ekor dilepas di hutan mangrove Wonorejo dan 8 ekor lainnya dilepas di Gununganyar. Pelapasan dilakukan di tepi pantai timur Wonorejo dan Gununganyar setelah berperahu dari sekitar Rumah Pompa Wonorejo.

Sebelumnya, pemkot telah melepas dua kera laut dari spesies serupa di tempat yang sama. “Kami harap kera-kera itu akan beranak pinak dan membuat jumlah kera di habitat mangrove semakin banyak. Tentu kehadiran mereka memperindah ekowisata di sana,” ujarnya.

Menurut Bambang D.H., kera laut itu dilepaskan karena hutan mangrove di kawasan itu sudah siap menjaga habitat kera dan membentuk ekosistem sendiri. ”Sengaja kami baru melepaskan kera laut itu sekarang karena saat inilah kawasan mangrove sudah terbentuk baik. Perkembangan mangrovenya sangat positif sehingga akan menjadi tempat yang menyenangkan bagi hewan-hewan di sana, termasuk kera laut itu,” tuturnya.

Pemkot berharap masyarakat, terutama warga sekitar hutan mangrove, ikut berpartisipasi aktif. Misalnya, melarang dan melaporkan bila ada pihak-pihak yang melakukan perburuan kera atau spesies lain yang dilindungi di sana.

Selain kera, spesies lain yang sangat berharga di kawasan mangrove Wonorejo dan Gununganya adalah sekitar 117 jenis burung. Mereka ada yang menetap di hutan itu, tapi juga ada jenis-jenis burung migran. Populasi burung ini juga telah meningkat sejalan perbaikan kualitas lingkungan di sana.

“Tidak hanya jadi tujuan wisata alternative, kawasan konservasi ini sekaligus untuk belajar tentang mangrove,” ungkap Bambang. pur

Sumber: Surabaya Post

Kamis, 21 Januari 2010

Artikel Burung Wonorejo dari jawa Pos

[ Kamis, 21 Januari 2010 ]
Para Pencinta Burung Sensus Populasi di Wonorejo

Bertemu ''Tracy Trinita'' di Tengah Tambak



Sebagian wilayah Surabaya merupakan habitat alam bagi kawanan burung liar yang statusnya dilindungi oleh pemerintah. Beberapa komunitas pencinta burung di Surabaya mencoba memantau populasi burung-burung liar itu di kawasan bozem Wonorejo.

ARUM PRIMASTY

---

PULUHAN anak muda tampak menyusuri pematang-pematang tambak di kawasan bozem Wonorejo. Sebagian besar di antara mereka membawa teropong dan kamera digital. Ada yang menenteng clipboard berisi daftar nama. Ada pula yang menyandang semacam teropong besar bernama spotting scope dengan penopang tripod. "Ini fungsinya untuk memperbesar obyek. Kalau mau melihat burung di tengah tambak begini kan susah," kata Agus Satriyono, salah seorang anggota rombongan.

Agus merupakan Koordinator Sarang Burung Indonesia (SBI), sebuah komunitas untuk warga Surabaya yang berminat dengan masalah pelestarian burung di Indonesia. Komunitas tersebut Sabtu lalu (16/1) mengoordinasi acara Asian Waterbird Sensus di kawasan bozem Wonorejo. Dalam acara tersebut, mereka melakukan pendataan terhadap jumlah burung air dan burung-burung liar lain di kawasan timur Surabaya itu.

Asian Waterbird Sensus diikuti oleh sekitar 30 anak muda yang berasal dari beberapa komunitas pencinta burung di Surabaya. Sebagian besar berasal dari kalangan mahasiswa. Antara lain, dari Kelompok Studi Burung Liar (KSBL) Pecuk, Peksia Unair, Anak Burung Indonesia, dan Yayasan Pendidikan Konservasi. Ada pula beberapa pengunjung bozem yang tertarik, kemudian memutuskan untuk bergabung.

Aktivitas mereka dimulai sekitar pukul 07.00. Rombongan itu dibagi menjadi tiga kelompok yang menyusuri pematang sungai utara, tengah, dan selatan dengan berjalan kaki. Jawa Pos bergabung dengan kelompok yang menyisir pematang sungai utara.

Setiap kelompok mencatat jumlah, jenis, dan lokasi burung yang mereka lihat, kondisi burung-burung itu, serta keadaan lingkungan yang mungkin membahayakan populasi hewan bersayap itu. Hasilnya direkap dan dilaporkan ke Wetland International Indonesia Program, lembaga koordinator sensus burung air di Indonesia.

Pengamatan tersebut dilakukan serentak di seluruh negara di Asia. Masing-masing negara melakukan sensus terhadap burung air di wilayah mereka. Pengamatan itu dilakukan dalam kisaran waktu 9 hingga 25 Januari 2010. "Istilahnya, kami menyediakan data suplemen untuk sensus di seluruh Asia itu," kata Agus.

Berbicara soal menyensus burung mungkin gampang. Namun, kenyataannya tak semudah itu. Para pengamat kemarin harus bersabar dan menunggu cukup lama. Baru sekitar pukul 08.00 sekelompok kecil burung terlihat di tengah salah satu tambak.

Teropong Agus dan kawan-kawan langsung terarah pada burung berbulu putih dan bersayap hitam tersebut. "Itu burung gagang bayam. Tapi kami biasa nyebutnya Tracy Trinita," kata alumnus Biologi ITS angkatan 2003 itu.

Ada alasan khusus kenapa burung bernama latin Himantopus leucocephalus itu diberi julukan nama supermodel Indonesia asal Bali tersebut. "Soalnya, badannya putih dan kakinya panjang. Jadi, kurus tinggi langsing, kayak model, ha ha," kelakar Agus.

Sejak ''sang model'' muncul, beberapa kelompok burung lain mulai terlihat. Para peneliti amatir itu pun mulai sibuk. Ketika melihat beberapa ekor burung di tengah tambak, mereka langsung mengambil peralatan. Ada yang mengamati dengan teropong, memotret, serta mencatat nama dan jumlah burung yang mereka lihat.

Sebagian lagi sibuk membuka-buka buku ensiklopedia tentang burung. Buku itu mereka gunakan untuk mencocokkan ciri-ciri burung yang mereka lihat dengan spesiesnya. Setelah spesiesnya ketemu, jumlah burung itu dicatat. "Soalnya, kami kan masih amatir. Begitu lihat, enggak bisa langsung menentukan, itu jenis apa. Makanya, harus buka buku begini," kata Gilang Ramadsyah, salah seorang anggota Peksia Unair.

Ketika burung yang dilihat tidak punya kecocokan dengan informasi dalam buku, ciri-ciri burung itu dicatat dulu. Sepulang dari pengamatan, ciri-ciri tersebut dicocokkan dengan data di internet atau ensiklopedia lain yang lebih lengkap.

Jika tetap tidak ketemu, para pengamat itu akan mendata dengan nama-nama yang lazim dikenal orang. "Misalnya, Cerek Jawa ini. Spesiesnya agak susah dicari di buku. Kalau susah gini, kami data dengan namanya dalam bahasa Jawa. Kami kan wong Jowo," kata Agus.

Namun, saat mengamati aktivitas burung-burung seperti itu, mereka harus hati-hati. Jangan terlalu berharap bisa cepat melihat makhluk-makhluk berkelas Aves itu melenggang di tengah tambak. Sebab, jika terlalu berharap, bisa-bisa salah mengira batang kayu atau batu sebagai burung, kemudian dicatat. "Makanya, kalau pengamatan gini otak harus fresh," tutur Agus.

Selain alasan sulitnya mengamati, habitat burung-burung air di kawasan tersebut memang sempat terganggu. Penyebabnya, aktivitas pembangunan ekowisata Mangrove di kawasan Wonorejo. Kedatangan alat-alat berat untuk membangun kawasan itu, dan penanaman ulang pohon mangrove, membuat habitat alam burung-burung air sempat terganggu. "Beberapa bulan lalu, sempat sedikit sekali jumlahnya. Mungkin burung-burungnya stres karena banyak alat berat waktu pembangunan, makanya lari semua," ujar Iska Desmawati, mahasiswi Biologi ITS angkatan 2006, yang juga mengikuti sensus.

Sensus hari itu sendiri tak sepenuhnya berjalan mulus. Baru pada tengah hari pengamatan burung-burung tersebut berjalan lancar. Para pengamat itu bahkan menemukan kawanan burung Gajahan yang sedang migran dengan jumlah sekitar 60 ekor. Menurut Agus, pergerakan kawanan burung migran itu memang bergantung pada pasang surut air laut. Saat air laut sudah pasang, sekitar tengah hari, kawanan itu baru mulai terlihat.

Kegiatan sensus itu berlangsung hingga sekitar pukul 16.00. Para pengamat amatir itu mencatat ada sekitar 32 spesies burung air dengan jumlah 623 ekor yang terlihat di kawasan bozem Wonorejo. (*/tom)