Sabtu, 08 Mei 2010

Artikel dari ngeluyuran.blogspot.com

Hutan Wisata Mangrove Di Surabaya

Tidak banyak yang tahu jika Surabaya yang panas ini memiliki hutan wisata yang bernama hutan wisata Mangrove. Disebut demikian karena di daerah ini sebagai pelestarian pohon bakau (mangrove) yang harus dijaga. Hutan wisata mangrove terletak di Pantai Timur Surabaya, Kelurahan Wonorejo, Kecamatan Rungkut. Area wisata yang berada sekitar 2 km arah timur kampus UPN ini, selain menonjolkan hutan mangrove yang alami, juga dilengkapi dengan binatang-binatang, diantaranya monyet berekor panjang dan berbagai jenis burung di sepanjang perjalanan menuju area mangrove. Jika kita masuk ke area mangrove, kita hanya melihat hutan mangrove dan laut yang dilengkapi dengan flora fauna yang menarik. Diketahui ada 44 jenis burung migran yang singgah di sini dan kebanyakan burung tersebut berasal dari Benua Australia menuju Eropa.

Untuk menuju ke lokasi ini, harus melalui jalan yang agak sempit, bergelombang dan tidak beraspal, melewati tambak-tambak dan di sebelah kanan terdapat sungai kecil, Dengan berpatokan pada Jembatan MERR-II C di perumahan Pondok Nirwana atau kampus STIKOM, ikuti terus jalan yang ada di depan STIKOM tersebut mengikuti arah sungai, melewati sekolah IPH, Hotel Teratai, kantor taxi ORENZ dan workshop konstruksi baja Kalimaya, setelah sampai di gudang alat berat milik Kalimaya Steel, beloklah ke kanan. Di pertigaan tersebut sudah ada papan petunjuk ke kawasan Ekowisata Mangrove. Setelah sampai di Bozem Wonorejo, parkirlah kendaraan, lalu membeli tiket masuk dan naik perahu menuju lokasi hutan mangrove.

Wisata alam Mangrove terletak di kawasan Pantai Timur Surabaya yang letaknya di tepi Selat Madura yang tidak terlalu luas, dengan bentang alam yang datar dengan kemiringan antara 0-3 persen. Kawasan ini terbentuk sebagai hasil endapan dari sistem sungai yang ada di sekitarnya dan pengaruh laut. Kondisi daerah delta dengan tanah aluvial merupakan habitat yang baik bagi terbentuknya ekosistem mangrove. Secara geografis dan ekologis, kawasan Pantai timur Surabaya memiliki fungsi yang sangat penting, salah satunya adalah mencegah ancaman intrusi air laut. Keberadaan hutan mangrove ini memiliki fungsi menjernihkan limbah terutama logam berat yang masuk ke laut.

Untuk melihat kekayaan alam di Hutan Mangrove, pengunjung harus menggunakan perahu yang dipandu oleh pemandu wisata dari pemuda-pemudi karang taruna setempat. Sebuah perahu motor berkapasitas maksimal 40 orang disiapkan untuk menikmati keindahan lokasi itu. Untuk pengamanan, disediakan pelampung dan fasilitas wisata lainnya. Perahu biasanya bergerak mulai dari dermaga Sungai Wonokromo menuju Selat Madura. Para pengunjung bisa menikmati rimbunan hutan mangrove, burung-burung yang beterbangan dan hinggap di ranting-ranting pohon mangrove. Di hutan mangrove tersebut terdapat Pos Pantau Mangrove yang biasanya digunakan untuk istirahat sambil menikmati makanan ringan. Dengan adanya hutan Mangrove ini, diharapkan untuk mencegah terjadinya pemanasan global. Karena kawasan pantai timur seperti ini rentan terhadap imbas pemanasan global, karena langsung berhadapan dengan laut.

Jumat, 07 Mei 2010

FKPMNE terbentur masalah dana


Djoko Suwondo mengakui banyak FKPM tidak bisa maksimal dalam pelaksanaanya. Sebagai polisi, dirinya tahu pasti masalahnya karena terbentur dana. Sebab FKPM tidak mendapatkan suntikan dana dari pihak manapun.

“Dana Operasional FKPM murni berasal dari Swadaya Masyarakat.” Katanya. Untuk bisa mendapatkan dan dari masyarakat, lanjut Djoko , pengurus FKPM harus bekerja keras mensosialisasikan FKPM ke masyarakat secara aktif. Itupun tidak mudah dilakukan sebab tidak sedikit masyarakat yang masih belum paham tentang apa fungsi dan peranan FKPM dalam menjaga dan menciptakan lingkungan yang aman, tentram, dan terkendali di lingkungan tempat tinggal mereka.

FKPM dibentuk berdasarkan SKEP.KAPOLRI No.Pol:SKEP/737/IX/2005, tanggal 13 Oktober 2005 ttg Kebijakan dan Strategi Penerapan Model Polmas bererta turunanya. "FKPMNE sendiri baru berdiri di Rungkut pada 17 September 2007,  dan semenjak itu pula, kami gencar melakukan sosialisasi", papar Djoko . "Tidak mudah memang, alhamdulilah berkat usaha keras dan pendekatan secara persuasive dengan warga sekitar, keberadaan FKPM mendapat banyak dukungan dari masyakat,” tutur Djoko suwondo panjang.

Inilah salah satu pernyataan KABAG Binamitra Polwiltabes Surabaya AKBP. Sri Setyo rahayu. FORUM KEMITRAAN POLISI MASYARAKAT sangat berperan dalam mengamankan lingkungan. Namun optimalnya peran itu sangat bergantung pada tingkat kepercayaan masyarakat pada polisi. Kalau polisi tidak dipercaya, maka peran FKPM tidak akan berjalan, tegasnya (22/9).

Sekarang anggota kami sudah mencapai 50 orang, yang terdiri dari RW-RT-Satpam juga ada tambahan dari Warga tambak yang bergabung ke FKPM Nirwana Eksekutif, warga tambak dilibatkan ke FKPM-NE, karena pentingnya hutan Konservasi Mangrove bagi seluruh umat manusia yang ada di bumi ini, jadi patut kita jaga dan kita lestarikan ujar Djoko Suwondo yang yang juga terpilih sebagai pengelola Lembaga Ekowisata bersama Wakil Ketua FKPM Adi Pramono.

Djoko sadar untuk meningkatkan kualitas standard keamanan membutuhkan dana yang tidak sedikit. Hanya mengandalkan dana swadaya dari masyarakat tidak akan mencukupi kebutuhan. Untuk itulah, Djoko tidak segan untuk menginstruksikan anak buahnya untuk melakukan pengelolaan Ekowisata Mangrove, sebagai upaya untuk memperoleh dana operasional untuk FKPM NE, sekaligus untuk mendapatkan simpati pimpinan. Ekowisata Mangrove (EWM) juga sudah dikukuhkan dalam akta notaris, sehingga sayap bisnis FKPMNE ini diharapkan djoko untuk dapat terus berdiri tanpa gangguan dari pihak manapun, termasuk dari masyarakat lokal yang dulunya merupakan pengurus hutan mangrove. EWM ini mendapat dana dari hasil pungutan para wisatawan yang mampir ke hutan mangrove wonorejo, pungutan biaya penanaman mangrove, dan juga penncarian dana CSR dari berbagai perusahaan besar, bersama-sama dengan pak Irvan, camat rungkut, tambah Djoko suwondo.   

Tapi saya cukup gembira sebab sekarang kami juga diperhatikan, dengan dibantunya tenaga pelatihan dari Polsek Rungkut dan Polres Surabaya Timur, dan tidak segan-segan Kapolres sendiri yang turun untuk membantu kami, dalam hal kegiatan apel, simulasi dan kegiatan lainnya, sehingga kami merasa terbantukan. Yang mana dulu biaya-biaya yang dikeluarkan untuk trainer sekarang sudah tidak ada. KABAG. Bina mitra Polwiltabes Surabaya juga memberikan dukungan dan dorongan kepada kami. Djoko menambahkan, bagi pengurus FKPM lain yang terkendala oleh masalah dana, setidaknya ada kabar gembira. Sebab didalam buku Panduan Polmas falsafah pemolisian 2008 yang baru dari Mabes Polri dijelaskan, saat ini di tingkat pusat sedang mencoba menggandeng menpora. Kedepan, FKPM bisa mendapatkan dana dari APBD pemerintahan daerah.

Djoko berharapkerjasama di tingkat pusat yang saat ini masih dalam proses penggodokan bisa segera disepakati. Sehingga, FKPM dapat benar-benar berfungsi sesuai dengan Moto FKPM yaitu menjadikan polisi bagi diri sendiri sehingga kita tidak menjadi korban dan pelaku tindak kejahatan. (K1)

Kamis, 06 Mei 2010

Artikel Foto dari Antara

Peduli Lingkungan


Foto
SRM V Pelumas Pertamina, Waljiyanto (ketiga kanan) bersama mahasiswa dan anggota Forum Kemitraan Polisi dan Masyarakat (FKPM), menanam bibit mangrove, di kawasan Eko Wisata Mangrove, Wonorejo, Surabaya, Kamis (6/5). Kegiatan Pertamina Youth Program 2010 yang digelar Pertamina Pemasaran dan Niaga dan Balinus yang diikuti 34 mahasiswa dari 28 perguruan tinggi (Jatim, Bali, NTB dan NTT) tersebut, untuk mengembangkan wisata alam yang berbasis komunitas.

(eric ireng/antara/nbc/jie)

foto hutan mangrove

SURABAYA, 6/5 - HUTAN MANGROVE. Sejumlah petani tambak menanam bibit mangrove dalam bambu, di hutan mangrove kawasan Wonorejo, Surabaya, Kamis (6/5). Petani tambak dan amggota Forum Kemitraan Polisi dan Masyarakat (FKPM), melakukan pemeliharaan dan pengawasan hutan bakau di wilayah pantai timur Surabaya, karena keberadaan hutan mangrove dapat melindungi tambak dan daratan di wilayah tersebut.FOTO ANTARA/Eric Ireng/ss/ama/10

Sumber: Antara

Artikel mangrove Sidoarjo

Sidoarjo Butuh Pol PP Air

Kamis, 6 Mei 2010 | 11:25 WIB

SIDOARJO - Anggota Komisi C DPRD Sidoarjo, I Wayan Dendra yang juga Ketua DPC Partai Hanura Sidoarjo mengatakan Sidoarjo saat ini sangat memerlukan terbentuknya satuan Polisi Pamong Praja (Pol PP) yang khusus mengawasi perairan.

Ide itu dia lontarkan setelah mendapat kabar tentang maraknya pembalakan liar hutan mangrove di pesisir timur Sidoarjo, akhir-akhir ini. "Dari dulu saya sudah usulkan, agar Pol PP air itu segera dibentuk," ujarnya, Kamis (6/5).

Politisi asal Jembaran Bali berpendapat perlunya dibentuk Pol PP khusus air itu, karena selama ini Pemkab cukup lemah dalam mengawal kebijakannya yanbg diterapkan di daerah pesisir.

Sementara, Sidoarjo memiliki kawasan pesisir yang cukup luas Data dari situs web resmi Pemkab Sidoarjo menyebutkan bahwa Sidoarjo memiliki daerah air tanah, payau, dan air asin mencapai luas 16.312.69 Ha. Kedalaman air tanah rata-rata 0-5 m dari permukaan tanah.

"Nah, areal seluas itu selama ini selalu luput dari pengawasan. Akibatnya ya sepertio ini, marak pembalakan hutan mangrove. Padahal hutan mangrove itu, sebagian merupakan program yang dibiayai APBD Sidoarjo," kata Wayan dengan nada berapi-api.

Sementara itu, Kepala Bidang Kelautan Dinas Kelautan dan Perikanan Sidoarjo, Septadi Koesmantoyo mengungkapkan di kawasan pesisir Jabon paling banyak terjadi praktik pembalakan hutan mangrove. Dibandingkan dengan kawasan pesisir di daerah lain seperti Waru, Sedati, Buduran, Sidoarjo, dan Candi.

Pohon mangrove yang paling banyak diincar pembalak adalah jenis pohon api-api. Karena jenis itu mempunyai nilai ekonomis yang cukup tinggi. Yang terbanyak dicuri adalah api-api berusia 10 tahun dengan diameter batang sekitar 30 sentimeter.

"Bagan siapi-api itu, getahnya bisa dijadikan bahan untuk pewarna batik. Bisa juga diolah jadi kosmetik dan obat-obatan. Sedangkan kayunya, cukup laku di pasaran China dan Korea. Ada juga bagian lain yang bisa diolah jadi makanan dan sirup," katanya.

Untuk mengganti mangrove yang rusak akibat pembalakan liar itu, Pemkab Sidoarjo sudah merencanakan penanaman kembali pada tahun 2011 mendatang. Sebenarnya, lanjut Septadi, untuk mengantisipasi praktik pembalakan hutan mangrove sudah ada perangkat hukumnya.

Yakni Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2007 tentang pengelolahan pesisir dan pulau-pulau kecil. Hukuman pidananya 2 hingga 10 tahun. Sedangkan dendanya bisa Rp 2 miliar-10 miliar. "Tapi pengawasannya memang lemah," ungkap Septadi. tio

Sumber: surabayapost

Rabu, 05 Mei 2010

Kapal Baru FKPM-NE Untuk Ekowisata & Konservasi


Minggu tgl 2 mei 2010 bertepatan dengan HARI PENDIDIKAN NASIONAL, kapal baru Ekowisata Mangrove Yang dibeli FKPM-NE dari pasuruan sudah tiba di Bozem Wonorejo. Kapal dengan kapasitas 50 Penumpang dengan panjang 12 meter dan lebar kurang lebih 3 meter berkekuatan mesin 30 PK ini dibeli untuk menunjang kegiatan ekowisata, konservasi dan penanaman Mangrove.

Kegiatan Konservasi dan penanaman yang sekarang sangat diminati terutama dari kalangan pendidikan, mulai dari SD sampai dengan Universitas. Tingginya minat masyarakat untuk mengetahui masalah mangrove dan Konservasi Lingkungan terutama dari kalangan pendidikan merupakan hal yang positif dan masalah ini direspon oleh Djoko Suwondo Ketua FKPM-NE.

FKPM-NE mempunyai 1 Kapal berkapasitas 35 orang dengan harga sekitar 39 juta ( Dibeli dengan dana hasil Lomba kelurahan berhasil 16 Jutaan) dan sisanya merupakan dana partisipasi dari FKPM-NE, 1 kapal patroli (Speedboat), 1 perahu ketinting dari fiber untuk kebutuhan logistik. Seluruh kapal ini sudah dipergunakan oleh EKOWISATA MANGROVE disamping 1 perahu karet bantuan dari Dinas Pertanian.

Kapasitas kapal dan jumlah kapal yang sudah ada tidak mencukupi. Untuk itu FKPM-NE memutuskan menambah satu kapal lagi, untuk memenuhinya. Mengingat untuk membuat masyarakat menjadi peduli terhadap lingkungan, pengenalan mangrove sebagai tanaman pencegah abrasi tidak hanya dengan teori dan sosilisasi, tapi harus ada sarana dan prasarana ke lapangan dan melihat secara langsung agar masyarakat dapat mengerti dengan benar permasalahan lingkungan yang menurut Wakil Ketua FKPM-NE Adi Pramono sudah hampir mencapai titik 0 (Nol), ini ditandai dengan gejala alam yang sudah tidak bersahabat dan musim yang bergeser, yang akan membuat masalah baru bagi petani terutama jadwal tanam dan panen yang kacau, yang ujung-ujungnya tentu akan mempengaruhi ekonomi secara nasional, karena secara tidak langsung akan mengancam gagalnya panen nasional yang berdampak dengan naiknya harga-harga komoditi.

Keseimbangan dan keselarasan antara alam dan manusia dibutuhkan untuk menciptakan keseimbangan. Untuk itu Ketua FKPM-NE Djoko Suwondo mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk melakukan suatu tindakan yang nyata dan terbaik untuk Bumi dan hal ini harus dimulai dari diri sendiri. Untuk itu kami mengajak kalangan pendidikan untuk ikut berpartisipasi, karena mereka-mereka ini yang akan meneruskan bangsa ini, kata Djoko Suwondo pada acara Hari Pendidikan Nasional disertai dengan peluncuran Kapal baru tersebut.

Artikel FKPMNE

KAPAL BARU FKPM-NE UNTUK EKOWISATA DAN KONSERVASI

Minggu tgl 2 mei 2010 bertepatan dengan HARI PENDIDIKAN NASIONAL, kapal baru Ekowisata Mangrove Yang dibeli FKPM-NE dari pasuruan sudah tiba di Bozem Wonorejo. Kapal dengan kapasitas 50 Penumpang dengan panjang 12 meter dan lebar kurang lebih 3 meter berkekuatan mesin 30 PK ini dibeli untuk menunjang kegiatan ekowisata, konservasi dan penanaman Mangrove.

Kegiatan Konservasi dan penanaman yang sekarang sangat diminati terutama dari kalangan pendidikan. Mulai dari SD sampai dengan Universitas. Tingginya minat masyarakat untuk mengetahui masalah mangrove dan Konservasi Lingkungan terutama dari kalangan pendidikan merupakan hal yang positif dan masalah ini direspon oleh Djoko Suwondo Ketua FKPM-NE.

FKPM-NE mempunyai 1 Kapal berkapasitas 35 orang dengan harga sekitar 39 juta ( Dibeli dengan dana hasil Lomba kelurahan berhasil 16 Jutaan) dan sisanya merupakan dana partisipasi dari FKPM-NE, 1 kapal patroli (Speedboat), 1 perahu ketinting dari fiber untuk kebutuhan logistik. Seluruh kapal ini sudah dipergunakan oleh EKOWISATA MANGROVE disamping 1 perahu karet bantuan dari Dinas Pertanian.

Kapasitas kapal dan jumlah kapal yang sudah ada tidak mencukupi. Untuk itu FKPM-NE memutuskan menambah satu kapal lagi, untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Mengingat untuk membuat masyarakat menjadi peduli terhadap lingkungan, pengenalan mangrove sebagai tanaman pencegah abrasi tidak hanya dengan teori dan sosilisasi, tapi harus ada sarana dan prasarana ke lapangan dan melihat secara langsung agar masyarakat dapat mengerti dengan benar permasalahan lingkungan yang menurut Wakil Ketua FKPM-NE Adi Pramono sudah hampir mencapai titik 0 (Nol), ini ditandai dengan gejala alam yang sudah tidak bersahabat dan musim yang bergeser, yang akan membuat masalah baru bagi petani terutama jadwal tanam dan panen yang kacau, yang ujung-ujungnya tentu akan mempengaruhi ekonomi secara nasional, karena secara tidak langsung akan mengancam gagalnya panen nasional yang berdampak dengan naiknya harga-harga komoditi.

Keseimbangan dan keselarasan antara alam dan manusia dibutuhkan untuk menciptakan keseimbangan. Untuk itu Ketua FKPM-NE Djoko Suwondo mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk melakukan suatu tindakan yang nyata dan terbaik untuk Bumi dan hal ini harus dimulai dari diri sendiri. Untuk itu kami mengajak kalangan pendidikan untuk ikut berpartisipasi, karena mereka-mereka ini yang akan meneruskan bangsa ini, kata Djoko Suwondo pada acara Hari Pendidikan Nasional disertai dengan peluncuran Kapal baru tersebut.

Sabtu, 01 Mei 2010

Tulisan dari Blog SMU Muhammadiyah 6

BERWISATA KE MANGROVE WONOREJO

Pagi itu terasa berbeda dalam pembelajaran siswa kelas IV-B SD Muhammadiyah 6 Gadung. Biasanya kegiatan belajar mengajar dilaksanakan di ruang tertutup dengan penyejuk Air Conditioning atau AC, dan yang terlihatpun tidak lebih dari benda-benda mati berupa buku, tas, dan beberapa alat peraga atau kreatifitas siswa yang dipajang di sudut-sudut dinding.

Tetapi sangat berbeda untuk kali ini, buku, pensil, papan tulis dan beberapa alat peraga tidak tampak lagi didepan mata, yang tampak hanyalah indahnya alam pesisir pantai yang dihiasi rimbunnya tetumbuhan indah nan menarik, menyebabkan mata tidak ingin segera beranjak untuk terus menikmatinya, suasana sejuk dipadu semilir angin segar dapat dirasakan secara langsung oleh ke 28 siswa itu, ratusan burung bangau putih yang terbang bebas di angkasa begitu tampak jelas menghiasi indahnya objek wisata yang baru diresmikan tiga tahun yang lalu itu.

Yah . . , itulah salah satu daerah wisata kebanggaan Kota Surabaya yang sangat menarik untuk dikunjugi akhir-akhir ini, Wisata Mangrove Wonorejo namanya, daerah wisata yang terletak di ujung timur kota Surabaya.

Wisata alam yang kini pengelolaannya dipegang oleh Lembaga Ekowisata Wonorejo, Forum Komunikasi Polisi Masyarakat (FKPM) Kecamatan Rungkut itu menjadi daya tarik bagi guru kelas IV-B, Bapak Imam Masyhuri untuk melaksanakan pembelajarannya di lokasi wisata pesisir laut yang dihiasi dengan tumbuhan bakau tersebut. Selain berwisata, siswa juga dikenalkan secara langsung ekosistem, lingkungan pantai, dan konservasi alam serta kegiatan ekonomi yang dapat dilakukan oleh masyarakat sekitar wilayah tersebut.

Pembelajaran yang dilaksanakan tanggal 22 April 2010 itu membawa keceriaan tersendiri bagi siswa kelas IV yang tidak lama lagi akan menjadi siswa kelas V, salah satunya adalah Zita, ia begitu terkesan dengan lingkungan wisata itu, “ Subhanallah, selain dapat menikmati segarnya hawa pesisir, saya juga bisa berkeliling menyusuri pantai berhutan bakau, pokoknya bagus dech“, ungkap siswa yang memperoleh peringkat 5 pada kegiatan evaluasi / TTS 2 minggu yang lalu..(har)

Sumber: sdmuh6gadung-sby